BANTENRAYA.COM – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Toyomerto, Kecamatan Kramatwatu mengembangkan empat unit usaha untuk menggenjot pendapatan asli desa (PADes).
Adapun empat unit usaha tersebut yakni simpan pinjam, penjualan pupuk dan obat pertanian, ayam petelur, dan pembuatan telur asin.
Pada sektor budidaya ayam petelur, BUMDes ini sudah melakukan panen dimana rata-rata selalu menghasilkan 272 butir perharinya.
Kepala Desa Toyomerto Iskandar mengatakan, keuntungan dari empat unit usaha tersebut yang masuk dalam anggaran pendapatan dan belanja asli desa (APBDes) sebesar 20 persen.
“Jadi dari modal yang kita keluarkan itu keuntunganya akan masuk ke APBDes walaupun hanya 20 persen. Sisanya diputar lagi untuk kebutuhan produksi,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin 26 Januari 2026.
BACA JUGA : Bumdes Kadubungbang Kembangkan Usaha Ayam Petelur, Tingkatkan Ekonomi Warga
Ia menjelaskan, unit usaha tersebut perlu dioptimalkan lagi supaya lebih berkembang dan bisa memenuhi kebutuhan konsumen.
“Seperti produksi telur, karena kita jual di sekitar warung-warung yang ada di desa, itupun belum bisa memenuhi kebutuhan, maka perlu ditingkatkan lagi usahanya,” katanya.
Adapun modal usaha ayam petelur yang dijalankan tersebut berasal dari APBDes, sedangkan untuk usaha pembuatan telor asin bersumber dari Bantuan Provinsi (Banprov).
“Telor asin itu dari Banprov sebesar Rp10 juta. Kemudian untuk jumlah telur yang kita hasilkan tiap harinya 18 sampai 19 kilogram,” ungkapnya.
Sekretaris BUMDes Toyomerto Nofan Sodikin mengatakan, jumlah ayam petelur saat ini mencapai 500 ekor dan menghasilkan 272 butir per harinya.
BACA JUGA : Kembangkan Bisnis, Bumdes Karya Bersama Pandeglang Pilih Usaha Ayam Potong
“Setelah itu kita kumpulkan telurnya lalu dijual ke warung-warung yang ada di desa. Kemudian kita juga melayani apabila masyarakat langusng datang ke kandang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, modal untuk menjalakan usaha ayam petelur tersebut mencapai Rp186 juta yang bersumber dari APBDes.
“Kalau sekarang lagi di harga Rp26 per kilogramnya kang, 1 peti ada 15 kg atau dijual sekitar Rp390.000. Itupun kita baru mulai di tanggal 9 November 2025 lalu, mudah-mudahan usaha ini terus berjalan,” harapnya. (***)















