BANTENRAYA.COM – Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Bina Karya Desa Tonjong, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang mengalami kerugian hingga Rp100 juta lebih akibat dampak banjir yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Pasalnya puluhan ribu ekor ikan yang dibudidaya oleh BUMDes Bina Karya hilang dari kolam penangkaran padahal waktu panen tinggal satu bulan lagi.
Ketua Unit BUMDes Bina Karya Anis mengatakan, ada sekitar 15 ribu ekor lele dan 6 ribu ekor nila yang menghilang saat kejadian banjir sehingga kerugian ditaksir mencapai Rp100 juta lebih.
“Lele 15 ribu ekor, nila itu ada 10 ribu ekor 60 persennya lepas dari kolam. Kerugian kita kurang lebih Rp100 jutaan,” ujarnya saat ditemui di Kantor Desa Tonjong, Kecamatan Kramatwatu, Selasa 20 Januari 2026.
Ia menjelaskan, kerugian yang di dapat dinilai sangat tinggi karena budidaya ikan tersebut sudah berjalan sejak empat bulan yang lalu dan akan dipanen sekitar akhir Februari 2026.
BACA JUGA: Ratusan Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Serang Tak Ada Lahan untuk Dibangun Gedung
“Dari empat bulan lalu sampai sekarang belum mendapatkan hasil sama sekali. Harusnya bulan depan panen, tapi karena banjir itu enggak jadi panen,” katanya.
Anis menuturkan, ribuan ekor itu lepas ke berbagai lokasi seperti ke sawah, bahkan di halaman sekolah hingga rumah warga saat kondisi kampung masih diterjang banjir.
“Ikannya ada yang lari ke sawah, bahkan dipancing sama warga. Jadi mancing di depan rumah aja dapat ikannya, ada yang dapat satu kilogram ada yang dapat tiga kilogram,” jelasnya.
Staf Desa Tonjong Mukromin mengatakan, bukan hanya BUMDes, kerugian juga dialami oleh para warga yang mayoritas menguntungkan hidupnya di penembakan ikan dan petani.
“Di kita kurang lebih ada sekitar 500 hektare sawah, 60 persen sawahnya puso, jadi sekarang petani menjerit. Perhektare itu modal nya 8 juta, tapi kalau di tidak kerugian kurang lebih Rp3 miliaran,” ujarnya.
BACA JUGA: Rumah Warga di Desa Sindanghayu Pandeglang Ambruk, Bantuan Pemerintah Belum Datang
Sementara sebagian warga yang berprofesi sebagai penambak ikan juga mengalami kerugian yang sangat tinggi karena banyak ikan jenis bandeng yang hilang saat terjadi banjir.
“Tambak punya saya ada delapan hektare tambak, tapi satu desa kurang lebih ada 150 hektare dan bandengnya banyak yang kabur. Satu kolam itu tujuh ribu ekor, perkolam itu ruginya Rp5 juta,” katanya.***















