BANTENRAYA.COM – Setiap peringatan Hari Guru Nasional ajang memberikan penghormatan kepada para pendidik.
Di sisi lain, momen ini harus dimanfaatkan untuk meninjau secara kritis kondisi riil yang dihadapi para guru. Terutama di Kota Serang sebagai pusat administrasi dan pendidikan di Provinsi Banten.
Berbagai program peningkatan mutu guru telah berjalan, sejumlah persoalan fundamental tentu memerlukan perhatian serius agar peran guru dapat berjalan optimal. Di tengah Kota Serang memiliki karakter urban yang berkembang cepat.
BACA JUGA: Klasemen Sementara Pegadaian Championship, Garudayaksa dan Barito Putera di Pucuk
Tak hanya itu, pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan sosial, serta tuntutan pembelajaran semakin kompleks. Tentu, terdapat beberapa isu utama yang patut mendapat perhatian lebih secara konstruktif.
Pertama, pemerataan kualitas pendidikan antar wilayah. Tiap Kecamatan di Kota Serang memiliki kapasitas sekolah dan kualitas sarana berbeda.
Beberapa sekolah di kawasan pinggiran menghadapi keterbatasan fasilitas laboratorium, perpustakaan, dan ruang pembelajaran yang ideal.
BACA JUGA: Lobi Bupati Dewi Berbuah Manis, Pengentasan Kemiskinan di Pandeglang Bakal Dibantu Pemerintah Pusat
Sehingga, kondisi ini berdampak langsung pada beban yang harus ditanggung guru ketika melaksanakan pembelajaran yang seharusnya berstandar sama dengan sekolah-sekolah di wilayah pusat kota.
Kedua, integrasi teknologi pendidikan masih berjalan tidak merata. Para guru di Kota Serang telah mendapatkan akses pelatihan, namun pencapaian implementatifnya sering terhambat oleh perangkat yang tidak memadai, konektivitas internet belum stabil di sebagian lingkungan sekolah, dan beban administratif yang menyita waktu. Sehingga transformasi digital belum dapat berjalan optimal.
Ketiga, beban kerja guru perlu ditata ulang agar proporsional. Selain mengajar, guru di banyak sekolah di Kota Serang masih harus memikul pekerjaan administratif yang cukup besar.
Situasi ini mengurangi ruang bagi guru untuk melakukan refleksi pembelajaran, pengembangan kompetensi, dan inovasi pengajaran berbasis riset tindakan kelas.
Manajemen sekolah dan kebijakan pendidikan perlu memberikan porsi yang lebih seimbang antara tugas mengajar dan kegiatan administratif.
Keempat, kebutuhan peningkatan kompetensi berbasis konteks lokal. Guru di Kota Serang menghadapi heterogenitas murid dengan latar sosial yang beragam. Yaitu, perkotaan, migrasi penduduk, hingga dinamika industri dan jasa.
Pembelajaran yang relevan dengan kondisi sosial Kota Serang membutuhkan pelatihan yang tidak sekadar teknis, tetapi juga penguatan pedagogi kontekstual, literasi sosial, serta pendekatan komunikasi yang humanis.
Kelima, minimnya ruang kolaborasi antarguru dan institusi pendidikan. Kota yang memiliki kampus, pusat pelatihan, dan organisasi profesi, seharusnya ekosistem kolaboratif dapat terbentuk kuat.
Namun, ruang temu yang rutin dan terstruktur antara guru, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya masih terbatas.
Padahal, pertukaran praktik baik akan sangat membantu pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan.
Hari Guru Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremonial pemuliaan profesi. Kota Serang membutuhkan evaluasi yang berkelanjutan dan kebijakan yang lebih terarah untuk memberdayakan para guru secara nyata.
Memperkuat ekosistem pendidikan, menata ulang prioritas pembangunan sekolah, dan menyediakan fasilitas yang layak, guru dapat menjalankan tugasnya secara optimal dan amemberikan kontribusi lebih besar terhadap kualitas generasi muda di Kota Serang.
Guru adalah pilar pendidikan. Namanya, pilar tentu harus ditopang oleh sistem yang kuat. Mudah-mudahan catatan konstruktif dan komitmen perbaikan yang konsisten, Kota Serang dapat mewujudkan pendidikan yang inklusif, modern, dan berdaya saing.
Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh pendidik di Kota Serang. Semoga dedikasi dan perjuangannya terus menjadi fondasi kemajuan pendidikan. ***
Penulis adalah Ketua DPD KNPI Kota Serang


















