BANTENRAYA.COM – Semangat literasi di SMPN 2 Cipanas, Kabupaten Lebak, memasuki babak baru yang membanggakan.
Di lapangan sekolah, tercipta sebuah peristiwa bersejarah: peluncuran buku antologi literasi (Putih Biru & Kenangan) pertama yang ditulis langsung oleh para siswa.
Lebih dari sekadar seremoni, momen ini menjadi selebrasi keberanian para siswa dalam menuangkan kisah dan refleksi hidup mereka melalui tulisan.
Baca Juga: 2.047 Mahasiswa Uniba Ikut KKM, Bupati Serang Titip Soal Sampah di Kabupaten Serang
Buku antologi ini berisi kumpulan kisah nyata siswa yang ditulis dengan penuh ketulusan dan kejujuran.
Tak hanya sekadar tugas menulis, karya-karya ini juga menjadi cerminan perjalanan pembentukan karakter, cara berpikir, dan empati para penulis muda.
Dalam hal ini, literasi hadir bukan hanya sebagai kemampuan teknis, melainkan juga sebagai ruang untuk mengenal diri sendiri dan menyampaikan suara hati.
Acara ini dibuka oleh Kepala SMPN 2 Cipanas, H. Didi Saridi, S.Pd., M.Pd., yang menyampaikan penghargaan kepada para penulis muda.
“Ini bukan sekadar buku. Ini tonggak awal budaya literasi yang tumbuh dari hati—oleh, dari, dan untuk siswa,” ujarnya penuh kebanggaan.
Di balik suksesnya penerbitan buku ini, ada peran penting Wiwin Widiati, S.Pd., guru bidang kesiswaan yang menjadi penggerak utama. Sejak awal, ia percaya bahwa karya para siswa layak untuk diabadikan.
“Saya yakin, pengalaman mereka memiliki nilai. Ini bukan sekadar dokumentasi, tapi jejak tumbuhnya keberanian untuk bersuara,” tuturnya dengan penuh semangat.
Sesi berbagi inspirasi dari dua tokoh kunci juga memperkaya acara ini. Ina Yulyanti, S.Pd., guru Bahasa Indonesia sekaligus kurator naskah, menceritakan proses panjang membimbing para siswa sejak draft awal hingga siap terbit.
Sementara itu, Kak Pipit Piharsih, sang inspirator, mengajak siswa untuk memandang menulis sebagai sarana membangun empati.
Baca Juga: Bisnis Pewangi Pakaian di Kota Serang Semakin Menjanjikan, Sebulan Ludes 500 Liter
“Tulisan yang jujur, betapapun sederhana, bisa jadi cahaya bagi orang lain,” pesannya yang menyentuh hati.
Momen paling emosional terjadi ketika beberapa siswa berbagi kesan mereka.
“Saya nggak pernah membayangkan cerita saya akan ada di dalam buku seperti ini,” ungkap salah satu siswa dengan mata berkaca-kaca, yang disambut tepuk tangan meriah dan penuh haru dari para peserta.
Baca Juga: Jika Tuta Tak Dibayarkan, Guru Provinsi Banten Ancam Adukan ke PTUN
Peluncuran buku ini bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan literasi yang lebih luas di SMPN 2 Cipanas.
Harapannya, akan lahir lebih banyak karya autentik dari siswa yang mencerminkan perjalanan mereka sebagai pembelajar sejati—yang berani berpikir, merasakan, dan mengekspresikan diri lewat kata. ***



















