BANTENRAYA.COM – Simulasi pemungutan dan perhitungan suara atau Tungsura Pemilu 2024 selesai dalam waktu 17 jam.
Di mana, Tungsura berpotensi semakin lama dan panjang dengan adanya dinamika di lapangan seperti protes saksi, salah penginputan dan beberapa hal lainnya.
Salah satunya, Tungsura menjadi panjang juga jika para pemilih seluruhnya menyalurkan hak pilihnya.
Sebab, dalam simulasi yang digelar KPU Kota Cilegon pada Selasa 30 Januari 2024 baru selesai dini hari pukul 00.00 WIB dengan hanya 128 jumlah pemilih dari DPT sebanyak 269 atau separuhanya saja.
Baca Juga: Warga Desa Sangkanwani Ditempa Keahlian Mengolah Sampah Jadi Barang Bernilai Jual
Kepala Divisi Teknis dan Pencalonan KPU Kota Cilegon Urip Haryantoni menjelaskan, semua simulasi berjalan dengan sangat normal dan selesai pada pukul 24.00 WIB. Namun, tentunya akan ada dinamika di lapangan dan itu belum terprediksi.
“Kemarin normal mulai jam 07.00 dan selesai rekap sampai penulisan plano dan lainnya itu jam 12 (pukul 24.00). Kami belum bisa prediksi jika nantinya ada kesalahan teknis penginputan dan lainnya. Namun, kami harap ini bisa menjadi gambaran bagi KPPS (Kelompok Petugas Pemungutan Suara),” katanya, Rabu 31 Januari 2024 melalaui salura telepon genggam.
Urip menjelaskan, secara normal yang terpenting adalah semua yang berkaitan dengan regulasi dilakukan.
Soal salah input dan protes saksi itu kendala teknis yang biasa terjadi.
Baca Juga: Manchester City vs Burnley: Duel Sang Guru Lawan Muridnya, Siapa yang Unggul?
“Gambarannya sudah kami sampaikan. Kemarin juga kami simulasikan dengan adanya saksi, walau hanya masih seputar sah dan tidak sah surat suara yang sudah dicoblos,” ucapnya.
Sementara itu, Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Purwakarta yang juga menjadi petugas KPPS menyampaikan, simulasi tersebut hanya diikuti sebanyak 128 pemilih dari total daftar pemilih tetap (DPT) di TPS 07, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon.
Artinya, cukup sedikit pemilih yang datang.
“Estimasinya itu baru separuhnya saja. Kalau semuanya menyalurkan hak pilih maka itu nanti bisa terlihat dua kali lipat,” ungkapnya.
Dedi menjelaskan, belum lagi nanti ada protes dari para saksi saat penghitungan suara.
Waktunya tentu akan semakin panjang dibandingkan dengan kondisi normal seperti simulasi.
“Biasanya itu terjadi di perkotaan atau wilayah komplek. Di mana, para saki sangat kritis. Biasanya pemilihan di komplek itu lebih lama selesainya, yang sudah-sudah begitu,” jelasnya.
Salah satu penghambat lainnya, jelas Dedi, adanya salah input dalam Formulir C Plano dengan hasil yang dibacakan. Hal itu, juga membutuhkan waktu dan ketelitian kembali untuk memastikan tidak ada selisih lagi hasilnya.
Baca Juga: Warga Desa Wantisari Kabupaten Lebak Tolak Pematokan Lahan Oleh Pemprov Banten
“Ini juga biasa terjadi ada selisih dalam input. Kami harap dengan adanya bimtek (bimbingan teknis) semua KPPS paham dengan potensi masalah dan bisa menyelesaikannya, sehingga tidak melanggar aturan dan regulasi,” pungkasnya.
Pada simulasi Tungsura tersebut petugas KPPS tampak kelelahan.***



















