BANTENRAYA.COM – Sejumlah durian unggulan lokal Banten terancam punah karena upaya untuk budidaya mandek.
Pemerintah daerah masih setengah hati, sementara pemilik durian unggulan juga enggan melepas pohon durian mereka untuk dikembangbiakkan karena khawatir rugi.
Sekretaris Yayasan Durian Indonesia Iwan Subakti mengungkapkan, sejak zaman Presiden Soekarno atau kisaran tahun 1950 hingga 1970 durian asal Banten sudah termasyhur, terkenal dan diakui sebelum durian dari daerah lain terkenal seperti sekarang.
Pada saat itu ada dua varietas durian yang dikenal dan merupakan durian unggulan yaitu durian Si Potret dan durian IM.
Sayangnya, kedua durian unggul itu belum sempat dibudidayakan, sehingga saat ini keduanya sudah punah.
Baca Juga: Helldy Agustian Berharap Pers Banten Terus Menyajikan Berita Valid dan Berimbang
Nasib yang sama bisa saja terjadi pada jenis durian unggulan lain asal Banten, sebab hingga saat ini upaya untuk membudidayakan durian-durian tersebut belum terlihat secara serius dilakukan oleh pemerintah daerah maupun oleh swasta dan pemilik durian unggulan.
Padahal berkaca pada negara lain seperti Malaysia, mereka mampu mengembangkan dan memertahankan varietas durian lokal unggulan mereka, sehingga kemudian terkenal di seluruh dunia, salah satunya adalah Musangking.
Iwan mengungkapan, setidaknya ada tiga faktor mengapa upaya budidaya durian lokal Banten tidak berjalan dengan baik.
Pertama, pemerintah daerah seperti setengah hati untuk membudidayakan si raja buah ini, hal itu dapat dilihat dari dukungan anggaran juga program yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Banten.
Misalkan kegiatan Festival Durian Banten yang sebelumnya digelar setiap tahun sejak 2015, namun setelah ada pandemi Covid-19 hingga kini festival tersebut menghilang.
Padahal, kegiatan itu berguna untuk mencari durian unggulan dari berbagai daerah di Provinsi Banten.
Daerah lain meniru festival durian yang digelar Provinsi Banten dan hingga kini konsisten menggelar kegiatan tersebut.
Bahkan, durian di daerah lain itu saat ini lebih maju dibandingkan dengan Banten.
“Daerah lain getol mengikuti Banten (dengan membuat festival durian dan mencari durian unggulan), kita malah hilang 9 festival duriannya),” katanya.
Kedua, warga pemilik pohon durian unggul enggan durian unggulan mereka diperbanyak.
Mereka beranggapan jika durian mereka diperbanyak, maka durian milik mereka akan memiliki harga di bawah.
Baca Juga: Hari Pers Nasional 2025, Fadli Zon Minta Pers Kawal Ketahanan Pangan Nasional
Juga bisa jadi durian mereka akan tidak laku lagi.
Akhirnya mereka hanya satu-satunya pemilik pohon durian unggulan tersebut.
Sehingga ketika pohon durian ini mati tidak ada lagi pohon durian lain.
“Masalahnya yang punya pohon induknya sulit karena dia dapat uang dari durian itu. Kalau dikembangkan bibitnya, dia bakal kalah. Sehingga tidak bisa dikembangkan,” katanya.
Baca Juga: Pj Gubernur Banten: Pers di Banten Harus Lebih Banyak Libatkan Publik
Ketiga, hingga saat ini belum ada pohon durian skala kebun yang membudidayakan satu variestas unggulan khas Banten.
Penyebab dari faktor ketiga ini adalah faktor kedua, di mana pemilik pohon tidak mau merelakan pohon durian unggulan mereka diperbanyak menjadi skala kebun.
“Kita kalah sama Bangka hyang sudah punya 2-3 varietas durian unggulan yang dikebunkan,” katanya.
Ada sejumlah durian unggulan Banten di antaranya adalah Si Seupah, Si Radio, Si Bintang, Si Awan, Si Layung, Si Bolang, dan lain-lain. Iwan memperkirakan ada ribuan jenis durian unggulan di Provinsi Banten. Masalahnya semua masih berada di hutan belum dalam skala kebun.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid belum membalas konfirmasi yang diminta Banten Raya.***















