BANTENRAYA.COM – Sejumlah penjual lato-lato di wilayah perkotaan Rangkasbitung menilai pelarangan siswa bermain lato-lato di sekolah hal biasa. Pedagang menyatakan tidak terpengaruh dan peminat lato-lato tetap banyak.
Wati, salah satu penjual lato-lato di Alun-alun Rangkasbitung mengatakan, adanya pelarang tersebut tidak menyebabkan omzetnya turun. “Kalau soal larangan tidak berdampak apa-apa pada penjualan lato-lato. Setiap hari juga kalau lagi ramai saya bisa dapat Rp 700 ribu, kalau lagi sepi paling Rp 400 ribu,” katanya kepada Banten Raya, Kamis 19Januari 2023.
Ia mengungkapkan, distributor permainan lato-lato sudah membuat produk baru agar permainan ini lebih aman seperti lato-lato yang memiliki alat pegangan dan lato-lato panjang. “Sempat ada yang terluka gara-gara lato-lato, Cuma sekarang ada yang lebih aman, edisi baru, ada yang kecil, maupun yang panjang, sebelumnya kan cuman ada yang biasa,” ungkapnya.
Baca Juga: Kemenag Lebak Tempa 70 ASN dengan Bimtek
Wati menjelaskan, harga satuan lato-lato termahal Rp 20 ribu, lalu Rp 15 ribu hingga Rp 10 ribu. Masalah harga kata penjual ini bisa ditawar.
“Yang paling mahal mah yang panjang, kalau yang ada alat pegangan itu Rp 15 ribu, tapi harga bisa ditawar, apalagi yang biasa bisa dapat tiga pasang dengan merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu,” jelasnya.
Penjual lato-lato lainnya di Pasar Rangkasbitung, Lukman menuturkan, meskipun larangan tersebut sudah diberlakukan disetiap sekolah. Namun, pembeli selalu ramai serta yang membeli lato-lato bermacam-macam antara lain siswa SD, TK, SMA, Mahasiswa.
“Larangan tidak berpengaruh, malah pembeli selalu ramai dan yang beli kebanyakan anak sekolah. Orang dewasa juga suka beli, mungkin permainan ini sangat mengasyikkan, dan dapat dibeli dengan harga yang terjangkau,” tuturnya.
Baca Juga: Update Kode Redeem Genshin Impact 20 Januari 2023, Klaim Primogem Gratis!
Ia membeberkan, karena ada larangan dengan alasan khawatir melukai dalam menjualan lato-lato dirinya selalu memilah serta merekomendasikan jenis lato-lato yang cocok untuk dimainkan.
“Kalau yang belinya pake seragam TK saya menganjurkan orang tua anak untuk membeli lato-lato yang kecil, kalau SD saya anjurkan untuk membeli yang panjang, nah kalau orang dewasa yang biasa juga terserah,” bebernya.
Siswa SDN 1 Kejaksaan Rangkasbitung, Putri membenarkan adanya larangnya siswa memainkan lato-lato saat jam belajar berlangsung. “Iya memang ada larangan tapi pelarangannya disekolah doang, kalau di rumah malah orang tua saya mengizinkan,” tandasnya.
Orang tua Putri yakni Dadan menyatakan, meskipun dirinya tidak melarang anaknya bermain lato-lato di rumah. Ia selalu membatasi serta mengawasi anaknya ketika bermain lato-lato bertujuan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Baca Juga: PO Bagong Buka Trayek Lintas Negara, Ternyata Ini Kota yang Dilalui
“Kalau dilarang pas jam pelajaran saya setuju, namun kalau dilarang bermain di rumah saya kurang setuju, soalnya anak saya pasti nangis, apalagi kalau sampe melarang para penjual lato-lato berjualan, kan kasian mereka,” paparnya. (sahrul)***



















