BANTENRAYA.COM – Sebuah pesan berantai tentang fenomena Aphelion sebabkan cuaca dingin di bulan Juli hingga Agustus viral di media sosial WhatsApp.
Berikut isi pesan berantai yang diterima Bantenraya.com, Minggu 17 Juli 2022, sekitar pukul 13.40 Wib.
Mulai besok hingga 22 Agustus cuaca akan lebih dingin dan lebih dingin dari tahun lalu. Ini disebut fenomena Albelian. Dimulai besok pagi jam 5.27 WIB.
Baca Juga: Kumpulan Contoh Motto Hidup Pelajar di MPLS yang Singat, Keren, Kekinian dan Buat Orang Takjub
Kita tidak hanya akan melihat tetapi juga mengalami efek dari Fenomena Alphelion, Ini akan berakhir pada Agustus 2022.
Selama ini kita akan mengalami cuaca dingin yang belum pernah ada sebelumnya. Karena itu badan kita pegal-pegal dan tenggorokan tersumbat, demam, batuk dan masalah pernapasan terjadi.
Oleh karena itu, lebih baik memperkuat sistem kekebalan tubuh Anda dengan vitamin dan produk makanan sehat lainnya.
Baca Juga: Link Nonton dan Sinopsis Film Korea 2037 yang Viral di TikTok, Bisa Lihat Dimana?
Jarak antara Matahari dan Bumi adalah 90.000.000 km. Tapi selama Fenomena Alphelion ini, jarak antara keduanya akan meningkat menjadi 152.000.000 km. Itu adalah peningkatan 66%.
Silakan bagikan ini dengan keluarga, teman, dan orang yang Anda cintai.
Menanggapi viralnya pesan beruntun fenomena Aphelion, berikut penjelasannya dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Baca Juga: Link Nonton Drakor Alchemy of Souls Episode 10 Sub Indo, Bukan di LK21 dan Telegram
Suhu udara dingin saat malam tiba di Pulau Jawa bukan fenomena aphelion. Fenomena suhu udara dingin merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau Juli-September.
Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau. Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur yang berasal dari Benua Australia.
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal, mengatakan pada bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin.
Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsun Dingin Australia. *

















