BANTENRAYA.COM – Kabar meninggalnya Buya Syafii Maarif memberikan duka mendalam bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan khususnya kepada Muhammadiyah.
Buya Syafii Maarif dikabarkan meninggal dunia hari ini Jumat 27 Mei 2022, pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman,Yogyakarta.
Buya Syafii Maarif merupakan Cendekiawan Muslim Indonesia dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang telah menghasilkan banyak karya.
Baca Juga: Tak Muda Lagi, Sederet Artis Tampan dan Mapan Ini Belum Mau Nikah, Alasannya Mengejutkan
Haedar Nashi selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah menceritakan detik-detik sebelum Buya Syafii Maarif pergi keharibaan Allah swt.
Menurut Haedar Nashir, ia sempat menemani Buya Syafii setengah jam sebelum dipanggil Allah.
“Sempat sekitar setengah jam menemani beliau sampai beliau dipanggil Allah,” ujar Haedar Nashir sebagaimana dikutip bantenraya.com dari laman Muhammadiyah.or.id.
Baca Juga: Berikut Naskah Pidato Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni dari Soekarno
Kemudian, Haedar Nashir bersaksi bahwa Buya Syafii merupakan orang yang tulus dan humanis serta mempunyai pemikiran yang sang luas.
“Kami Muhammadiyah dan bangsa Indonesia tentu saja berduka atas kehilangan bapak bangsa yang melintasi, milik semua orang, tokoh yang humanis, tulus, dan pemikiran-pemikirannya sangat luas wawasan dan melampaui,” ungkap Haedar.
Selanjutnya Haedar menyatakan sebelum meninggal, Buya Syafii sempat menyampaikan dua pesan kepadanya.
Baca Juga: Profil Buya Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah yang Kini Telah Berpulang
Adapun pesan pertama Buya Syafii kepada Haedar ialah agar menjaga keutuhan bangsa, keutuhan Muhammadiyah dan keutuhan umat Islam.
Pesan Buya Syafii yang kedua, sebagaimana penceritaan Haedar, yakni meminta dilakukan doa bersama.
Pesan kedua tersebut cukup membuat kaget Haedar, karena hal ini menjadi sebuah yang tidak biasa dari Buya Syafii.
Baca Juga: Mengenal Sungai Aare di Swiss, Lokasi Anak Ridwan Kamil Hilang yang Luasnya Hampir Separuh Negara
Haedar mengatakan mendoakan orang sakit merupakan kewajiban bagi yang menjenguk, ketika Buya Syafii meminta melakukan doa hal ini merupakan suatu yang tidak biasa.
“Tidak biasanya buya itu kan orangnya santai gitu biarpun kami selalu ketika menjenguk orang sakit kewajiban kami mendoakan beliau malah yang meminta sendiri untuk mendoakan beliau sehingga kami berdoa bersama beliau,” imbuh Haedar.
Ketika berdoa bersama, Haedar menyaksikan air mata Buya Syafii berlinang.
“Saya menyaksikan air matanya berlinang dan itulah percakapan kami yang terakhir,” terangnya.
Satu hari, kata Haedar, ia mengirimkan pesan melalui Whatsapp kepada Buya Syafii.
“Beliau menjawab bahwa saya sudah menerima keadaan ini dan dengan pasrah dan kami percaya dengan tim dokter RS PKU Muhammadiyah Gamping,” pungkas Haedar.***



















