BANTENRAYA.COM – Perkembangan ekonomi dunia yang tidak menentu diwarnai dengan ancaman resesi di Amerika Serikat dan Uni Eropa, ditambah dengan terjadinya perang Rusia dengan Ukraina membuat beberapa prediksi pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia akan terpengaruh.
Beberapa pakar ekonomi pun melakukan prediksi atau memperkirakan bagaimana kegiatan ekonomi bangsa Indonesia dibawah tekanan kondisi perekonomian dunia yang fluktuatif, dari ancaman resesi, hingga kenaikan harga energi, dan ketahanan pangan dunia.
Dalam acara tahunan yang diselenggarakan oleh BNI Asset Management memberikan prediksi kondisi market dan outlook perekonomian global dari perspektif ekonomi makro.
Beberapa pembicara seperti Direksi BNI Sekuritas hingga Menko Perekonomian.
Bahkan Menko Perekonomian menyatakan pemerintah Indonesia telah menerapkan strategi dalam mempercepat laju pemulihan ekonomi pada tahun 2022 dengan menitikberatkan bahwa pemerintah akan tetap menjaga fleksibilitas APBN dan meneruskan Program PEN 2022.
Sementara itu, dalam kebijakan fiskal, Kementerian Keuangan juga menyampaikan pentingnya intensif fiskal yag ditujukan untuk mempercepat pemulihan perekonomian bangsa Indonesia.
Sehingga pemerintah tetap akan menjaga konsistensi kebijakan fiskal.
Dimana beberapa krisis yang terjadi karena pandemi dan pergolakan ekonomi dunia akan menjadi momentum agar melanjutkan reformasi structural dengan lima strategi prioritas, reformasi fiskal, dan reformasi sektor keuangan.
Bahkan perekonomian nasional lebih maju dengan menambahkan nilai perihal strategi pertumbuhan ekonomi tahun 2022 hingga 2045 diantaranya, living with pandemic, reformasi program perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur, pemanfaatan dinamika geoolitik dan reformasi structural.
Bahkan menurut pandangan ekonom global, dimana Executive Director JP Morgan Singapore, Sin Beng Ong memberikan pandangannya terkait dengan proyeksi outlook market dan ekonomi makro pada tahun 2022.
Ia menyatakan pandangannya terkait dengan kondisi Indoneia dimana ia memberikan respon positif terhadap kolaborasi yang dibangun pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK terkait kebijakan ekonomi yang disinkronkan sehinga meminimalisir dampak ekonomi.
Sementara itu, menurut Chief Economist BNI Sekuritas, Damhuri Nasution menyampaikan Ekonomi dunia masih dalam fase ekspansi, tumbuh pesat di 2021 dan akan melambat di 2022 (namun tetap relatif tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan historikalnya).
Meskipun adanya ancaman inflasi global karena krisis energi dan gangguan suply chain, serta kebijakan moneter yang longgar dan fiskal yang ekspansif. Indonesia masih mampu menghindari dari kenaikan inflasi seperti di AS dan Uni Eropa.
Hal ini karena pertumbuhan supply dan demand masih cenderung seimbang dibandingkan di AS dan Uni Eropa stimulus relative kecil, serta pasokan energi masih mencukupi.
Sementara itu, pada sektor investasi Putut Endro Andanawarih selaku Presdir BNI Asset Management menyatakan pada tahun 2022 akan ada kenaikan suku bunga yang tidak dapat dihindari, bahkan bisa terjadi lebih cepat.
Sehingga investor dapat me melakukan diversifikasi portfolionya kepada Instrument saham, pasar uang, dan pada obligasi jangka-menengah pendek.
Outlook Ekonomi Maritim
Outlook atau dikenal dengan ramalan yang pada sektor kemaritiman 2022, tentu tampil dalam bahasa optimisme, sehingga wajar saja semua lembaga atau pengamat menganalisa dengan peruntungan yang lebih baik pada tahun 2022.
Meski demikian, untuk tahun 2022 yang masih terdampak dengan pandemi Covid 19 dipastikan tidak sepenuhnya menyenangkan. Pasalnya ada perkembangan baru di dunia dimana perang antara Rusia dan Ukraina sangat berpengaruh.
Dalam dua tahun belakangan, sektor maritime juga terkena dampak pandemi. Banyak pelaku bisnis yang bangkrut, sedangkan mereka yang bertahan pun dalam keadaan survive sehingga menyosong tahun 2022 masih dalam fase bertahan dari badai yang datang.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana peruntungan bisnis maritim 2022?
Untuk membatasi bisnis maritime maka usaha maritime melingkupi pelayaran, pelabuhan, dan galangan kapal. Tetapi ada juga yang memasukan terkait usaha yang memberikan jasa awak kapal (manning atau crewing).
Bahkan belakangan ini berbagai kegiatan kargo logistic yang melakukan perpindahan melalui berbagai moda transportasi laut, juga masuk dalam lingkup bisnis maritime, artinya tidak ada batasan yang kaku terkait ekonomi maritime.
Semenjak merebaknnya virus maka beberapa pelayaran wisata atau cruise, dimana sektor ini menjadi perhatian publik internasional, ketika para operator cruise ini merumahkan puluhan ribu kru yang terpapar, demikian juga penumpangnya, sehingga higga kini geliat pelayaran wisata masih belum pulih.
Selain itu, ada sektor pelabuhan yang menjadi sorotan internasional karena banyak yang ditutup, khususnya di China, demi meredam penyebaran virus. Efek langkah ini terasa sampai sekarang, bahkan muncul istilah kiamat container untuk mendeskripsikan efek itu.
Pelayaran
Jika kita bicara ekonomi maritime maka tak bisa lepas dari sektor pelayaran, dimana sektor ini juga memiliki variable yang menjadi penompang ekonomi maritime, seperti dry bulk, tanker, chemical, peti kemas.
Tapi jangan membahas terlalu jauh, cukup dari sektor peti kemas yang menjadi primadona bisnis maritime. Karena pada bidang ini menjadi patokan dalam perdagangan internasional. Artinya kemampuan negara dalam ekspor impor diukur dari satuan peti kemas twenty foot equivalent unit atau TEU.
Tak hanya itu, kekuatan atau kemampuans sebuah pelabuhan juga didasarkan atas kuantifikasi ukuran TEU. Sebuah negara juga melayani ekspor impor seperti biji besi, nikel, gandum dll, dalam jumlah yang masih seringkali tidak menjadi ukuran.
Tentu pernyataan ini tidak ingin mengecilkan kinerja ekspor-impor komoditas tersebut dalam perdagangan luar negeri. Tapi berbagai statistik rujukan internasional menomorsatukan perdagangan internasional yang menggunakan peti kemas dalam pencatatannya.
Diramalkan, bisnis pelayaran peti kemas akan tetap bersinar tahun 2022, seperti kondisinya saat ini. Dilaporkan oleh berbagai media sebelumnya, pelayaran peti kemas membukukan pendapatan sekitar 48,1 miliar greenback AS hingga trisemester 2021.
Pencapaian ini sembilan kali lipat melebihi pendapatan yang diperoleh dalam periode yang sama pada 2020 sebesar 5,1 miliar dollar AS. Pencapaian spektakuler ini mengalahkan penghasilan yang dibukukan oleh FANG (fb, Amazon, Netflix, Google).
Galangan & pelabuhan
Sementara itu, sektor usaha galangan kapal diramalkan akan tetap seperti kondisi sebelumnya yang tak berdaya antara mati segan tapi hidup pun tidak mau. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan kemaritiman, bisnis galangan kapal sudah sakit jauh sebelum virus corona mengharu-biru.
Begitu parahnya keadaan sektor ini sampai-sampai dua raksasa galangan dunia asal Korea Selatan, Hyundai Heavy company (HHI) dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DMSE), harus merger agar bertahan hidup.
Gabungan kedua perusahaan itu kini merupakan galangan terbesar di dunia yang menguasai 20 persen order new building. Meski demikian langkah mereka seperti harus mengerem karena banyak lembaga antitrust belum memberikan lampu hijau untuk merger yang dilakukan. Ditakutkan aksi korporasi shipyard asal Negeri Ginseng itu memicu praktik monopoli.
Sedangkan bisnis pelabuhan masih berjalan fluktuatif, karena ada dua faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah respon china yang menutup pelabuhan. Karena China dipastikan melakukan lockdown pelabuhan atau wilayah terdampak.
Negeri Tirai Bambu itu memang dikenal keras melawan Covid-19. Mereka menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap wabah tersebut. ***



















