Oleh : H Yasin Muthohar
Rasulullah SAW telah bersabda: “Umatku akan senantiasa ada dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menjelaskan dua hal. Pertama sunnah bagi orang yang berpuasa untuk mempercepat buka dan mengakhirkan sahur. Kedua umat Islam akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menjalankan sunnah nabi menyalahi kebiasaan kaum kafir.
Sabab wurud hadits ini menjelaskan bahwa kebiasaan Yahudi adalah mempercepat sahur dan mengakhirkan buka. Kemudian nabi memerintahkan umatnya untuk menyalahi kebiasaan Yahudi dan berpegang pada sunnah Nabi SAW yaitu mempercepat buka dan mengakhirkan sahur. Dalam riwayat lain nabi mengatakan: “Percepatlah berbuka karena kaum Yahudi selalu mengakhirkan buka.”
Dalam hadits di atas dicontohkan sunnah nabi yang hukumnya mandub atau mustahab yaitu mempercepat buka dan mengakhirkan sahur. Dari sini bisa kita tarik mafhum muwaafaqah min babi aula, yaitu jika berpegang teguh pada syariat yang hukumnya sunnah atau mandub saja akan mendapatkan kebaikan, apalagi berpegang teguh ada syariat yang wajib. Jika berpegang teguh pada sebagian syariat saja akan mendapatkan kemaslahatan apalagi jika kita berpegang teguh pada syariat secara total. Tentunya kemaslahatan yang akan didapat pasti akan lebih besar lagi.
Allah berfirman dalam QS Al Jin ayat 16:
“Dan seandainya mereka (Jin dan manusia) istiqomah (baca: teguh, lurus) pada thariqoh (baca: jalan hidup Islam) niscaya kami akan memberi minum mereka air yang menyegarkan.”
Maksudnya, jika manusia dan jin istiqomah berpegang pada jalan hidup Islam (baca:Syuariah) niscaya Allah akan meluaskan rezeki mereka (baca: menyejahterakan).
Syaikh Muhammad Muhammad Ismail menyatakan dalam kitabnya “Fikrul Islam” bahwa dimana saja ada syariat maka di sana ada kemaslahatan.
Inilah yang menjadi keyakinan setiap muslim. Syariat Islam yang diturunkan oleh Allah pasti membawa kemaslahatan. Berpegang teguh pada syariat akan membawa kebaikan. Sebaliknya meninggalkan syariat akan membawa bencana dan malapetaka.
Allah berfirman dalam QS. Thoha ayat 123: “Siapa saja yang berpaling dari peringatanku (baca: syariat-Ku, yaitu aturan hidup Islam) maka pasti baginya akan ada kehidupan yang sulit (di dunia) dan di akhirat kelak ia akan dihimpun dalam keadaan buta.”
Jika hari ini kita melihat umat Islam identik dengan kemunduran, keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan, maka penyebabnya adalah karena umat ini telah lama jauh dari aturan Sang pencipta.
Mari kita lihat apa yang saat ini tengah berlangsung dalam kehidupan kita. Tata pergaulan budaya saat ini identik dengan hedonisme yang merupakan ciri kehidupan barat jauh dari nilai-nilai Islam.
Pendidikannya identik dengan materialisme. Hasil dan capaian pendidikan lebih menekankan pada aspek materi. Kehidupan ekonomi didominasi dengan paham materialistik kapitalistik.
Aktivitas ekonomi hanya menguntungkan segelintir para pemilik modal. Halal dan haram tidak menjadi acuan dalam kegiatan ekonomi. Politik-pun bersifat machiavelli, bebas dan kebablasan, menghalalkan segala cara. Politik lebih edentik dengan kepentingan bukan pelayanan, Pencitraan bukan pengorbanan.
Bernegara tidak lagi untuk melayani kepentingan rakyat. Dalam banyak hal, rakyat selalu menjadi korban kebijakan yang lebih menguntungkan para pemilik modal.
Itulah ciri kehidupan yang jauh dari syariat ilahi. Kehidupan dijalankan bukan untuk ibadah dan menebar kebaikan, bukan untuk menjadi jembatan menuju kenikmatan akhirat, melainkan hanya untuk kenikmatan dunia yang sesaat untuk kepentingan pribadi dan segelintir orang.
Kita perlu melirik dan belajar dari sejarah kehidupan umat islam selama kurang lebih 13 abad. Sejarah telah menjadi bukti bahwa ketika dunia diatur dengan aturan Tuhan pasti melahirkan kemaslahatan dan kemajuan. Lebih dari dua per tiga dunia dinaungi Islam dengan keadilan, kesejahteraan dan kemajuan.
Umat Islam mulai mengalami kemunduran dan keterpurukan saat aturan Tuhan sedikit demi sedikit terkikis dari kehidupan.
Belum tibakah saatnya bagi kita untuk kembali kepada syariat Tuhan Sang Pemilik kehidupan, syariat yang pasti membawa kerahmatan? Bukankah Ramadhan kita mengajarkan bahwa di balik aturan tuhan pasti ada kemaslahatan?
Penulis adalah Mudir Ma’had Al Abqary Serang, Banten



















