BANTENRAYA.COM – Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dijuluki sebagai Bapak Pers Nasional.
Julukan tersebut memang layak diberikan kepada Tirto Adhi Soerjo karena perjuangan dan pengorbanannya dalam dunia pers di Indonesia.
Untuk mengenal sosok Tirto Adhi Soerjo lebih dekat, mari simak perjuangannya dalam dunia pers nasional yang sudah Bantenraya.com rangkum dari berbagai sumber berikut ini.
Baca Juga: Sinopsis Ikatan Cinta 9 Februari 2022, Reyna Akhirnya Tahu Kebenaran dari Nino
Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora pada tahun 1880. Meski lahir di Blora, ia lebih banyak menghabiskan kariernya di dunia wartawan di Batavia dan Bandung.
Sedari muda, Tirto memang kerap menulis dan mengirimkan tulisannya ke sejumlah surat kabar berbahasa Belanda dan Jawa.
Karen kepiawaiannya itu, ia pernah membantu di Koran Chabar Hindia Olanda pimpinan Alex Regensburgh selama dua tahun sebelum pindah menjadi Redaktur Pemberita Betawi pimpinan F. Wriggers.
Walaupun aktif berkecimpung di dunia jurnalistik, Tirto meneruskan studi dari HBS Belanda ke jenjang perguruan tinggi sebagai mahasiswa kedokteran di STOVIA, Batavia.
Baca Juga: Di Acara Puncak HPN 2022 Presiden Jokowi Nyatakan Dukung Regulasi Publisher Right Segera Diterbitkan
Namun karena lebih sibuk menulis di media massa, ia tidak meneruskan pendidikannya.
Tirto berperan dalam dunia Pers Nasional karena saat itu, ia mendirikan tiga surat kabar yaitu Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Poetri Hindia (1908).
Karena menggunakan bahasa Melayu dan seluruh proses produksinya dikerjakan oleh orang pribumi asli, Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar Nasional yang pertama kali terbit.
Koran itu digemari masyarakat karena ada satu rubik khusus yang menyediakan penyuluhan hukum gratis.
Dalam surat kabar buatannya, ia kerap membuat isi surat kabar itu
berisi menyinggung pemerintah Belanda. Hal itulah yang membuat Tirto dibuang ke tempat terpencil selama berbulan-bulan.
Selama berkecimpung di dunia wartawan, Tirto dikenal sebagai pewarta yang berani. Pada tahun 1902, dia menulis soal persekongkolan pejabat di Madiun yang kasusnya menjadi perhatian publik saat itu.
Selain itu, keberaniannya serta kemampuannya dalam menulis membuatnya bisa dekat dengan siapa saja, termasuk pejabat kolonial sendiri.
Bahkan dia akrab dengan Gubernur Jenderal Johannes Benedictus van Heutz yang memerintah pada 1904-1909. Apalagi keduanya sama-sama pecinta ilmu pengetahuan terutama dengan kemunculan modernisme di Eropa.
Sepeninggal Gubernur Jenderal van Heutz, penggantinya Gubernur Jenderal Idenburg merasa jengah dengan pemberitaan-pemberitaan Tirto kala itu.
Ia pun menerjunkan staf khusus untuk mengawasi gerak-gerik Tirto. Oleh Staf khusus bernama Rinkes itu, Tirto dibungkam dengan berbagai cara, mulai dari difitnah, dimiskinkan, hingga tidak diperbolehkan bertemu siapapun.
Pada 7 Desember 1918, Tirto meninggal dunia di Batavia karena mengidap depresi. Pada saat kematiannya, hanya iringan kecil yang mengantarnya ke pemakaman di daerah Mangga Dua. Tidak ada pula pemberitaan besar soal kematian Tirto.
Pada tahun 1973, Tirto dianugerahi gelar sebagai perintis pers Indonesia. Kemudian pada tahun 2007, Tirto dianugerahi gelar pahlawan nasional.
Kini makamnya berada di kawasan Belender, Bogor. Ia dipindahkan dari makam lamanya di Mangga Dua pada tahun 1973 karena lahannya dibongkar untuk pembangunan mall.
Berkat dedikasi, perjuangan dan pengorbanannya terhadap dunia wartawan, tak heran jika Tirto Adhi Soerjo dijuluki sebagai Bapak Pers Nasional.(***)



















