BANTENRAYA.COM – Mungkin diantara kamu sudah mengenal atau bahkan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tapi tahukah kamu penyebab organisasi ini menjadi terpercah?
Untuk itu tetap ikuti ulasan berikut ini agar mengetahui penyebab HMI terpecah menjadi dua.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah salah satu organisasi massa yang ikut mengawal perkembangan Indonesia di awal kemerdekaan.
HMI pertama kali didirikan oleh mahasiswa bernama Lafran Pane pada 5 Februari 1947, dan besok akan merayakan ulang tahun yang ke-75.
Dahulu HMI hanya beranggotakan 14 mahasiswa, tapi seiring berjalannya waktu nama organisasi ini makin besar.
Namun dibalik kesuksesannya tersebut, ada gejolak yang membuat HMI terpecah menjadi dua. Hal itu dikarenakan adanya konflik internal.
Konflik internal terjadi setelah Kongres HMI ke 15 di Medan pada 1983. Tiga tahun setelah itu, atau pada 1986, HMI memutuskan menerima asas tunggal Pancasila yang dijalankan oleh rezim Orde Baru.
Dengan demikian, asas HMI bukan lagi Islam, melainkan Pancasila. Pertimbangan mengubah asas ini cenderung alasan politis dan adanya tawaran-tawaran menarik di balik itu.
Akhirnya, sebagian keluarga besar HMI tidak terima dengan keputusan tersebut dan memilih bertahan dengan membuat HMI berasas Islam.
Jadilah dua versi HMI. Pertama, HMI Dipo (HMI yang berkantor di Jalan Diponegoro Jakarta). Kedua, HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi).
Posisi HMI saat itu memang dilematis. Jika tidak mengganti asasnya, maka terancam dibubarkan oleh rezim Orde Baru. Lalu, dalam Kongres HMI di Padang diputuskan menerima asas tunggal Pancasila.
Pemerintah saat itu hanya mengakui HMI Dipo sebagai organisasi yang resmi. Tumbangnya rezim Orde Baru tahun 1998, membawa angin segar di tubuh HMI.
Pada Kongres HMI di Jambi tahun 1999, HMI Dipo memutuskan untuk mengembalikan asas Islam di tubuh organisasi.
Sayangnya, antara HMI Dipo dan HMI MPO tidak otomatis menyatu kembali seperti sedia kala meski keduanya berasas Islam.
Alasannya, antara HMI Dipo dan HMI MPO memiliki perbedaan karakter dan tradisi keorganisasian. HMI Dipo dinilai lebih dekat dengan kekuasaan dan cenderung pragmatis. Sebaliknya, HMI MPO masih mempertahankan sikap kritis pada penguasa.
Meski demikian, HMI telah memberikan sumbangsih besar pada perkembangan negara Indonesia. Banyak jebolan HMI yang menjadi tokoh nasional.
Misalnya mantan wakil presiden Jusuf Kalla, mantan ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashiddiqie, Yusril Ihza Mahendra, Amien rais, Ade Komarudin, Hamdan Zoelva, Fadel Muhammad, dan masih banyak lagi.
Itulah awal mula penyebab terjadinya HMI terpecah menjadi dua yaitu DIPO dan MPO.***


















