BANTENRAYA.COM – Ratusan perajin topi anyaman pandan di Kabupaten Pandeglang menghadapi ancaman krisis ekonomi setelah penyerapan produk dari pembeli utama dihentikan sejak Februari 2026.
Kondisi ini menyebabkan penumpukan hasil produksi hasil para perajin di dua sentra kerajinan, yakni di Kecamatan Banjar dan Kecamatan Mekarjaya.
Mutiara Hady, pengelola Pandan’s Craft dan Sinar Harapan, mengungkapkan, penghentian penyerapan terjadi karena perusahaan pembeli utama, yaitu PT Dados Sekana untuk sementara tidak lagi melakukan pembelian dalam jumlah besar seperti sebelumnya.
BACA JUGA: Cek Harga! Samsung S26 Resmi Dijual, Chip 2nm dan Galaxy AI Jadi Andalan
“Terhitung per Februari 2026, penyerapan produk topi anyaman pandan dari dua klaster penganyam di Banjar dan Mekarjaya dihentikan sementara karena pembeli utama belum dapat melakukan penyerapan kembali sebagaimana biasanya,” ujar Hady, Jumat 27 Februari 2026.
Dia menjelaskan, kerja sama pemasaran antara pengrajin dan pihak pembeli tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 30 tahun secara berkelanjutan.
Karena itu, penghentian mendadak berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha para penganyam.
BACA JUGA: MBG Ramadan di Lebak Tuai Banyak Keluhan: Memang Cukup untuk Gizi Anak?
Akibat terhentinya distribusi, para pengrajin kini mengalami penumpukan stok produksi yang belum terserap pasar.
Situasi tersebut dinilai berpotensi mengganggu mata pencaharian masyarakat yang selama ini bergantung pada industri kerajinan tradisional tersebut.
“Kondisi ini sangat berdampak bagi para penganyam karena hasil produksi menumpuk dan mereka sangat membutuhkan dukungan penyerapan produk agar usaha serta mata pencaharian tetap berjalan,” katanya.
Pihak pengelola pun mengajak pemerintah daerah, sektor swasta, pelaku usaha, komunitas hingga masyarakat luas untuk ikut membantu pemasaran produk melalui pembelian langsung maupun kerja sama distribusi.
“Kami mengajak instansi pemerintah, pihak swasta, pelaku usaha, komunitas, reseller, serta masyarakat luas untuk berpartisipasi membantu penyerapan produk topi anyaman pandan, baik melalui pembelian langsung maupun kolaborasi pemasaran,” tambahnya.
Menurutnya, dukungan lintas sektor sangat dibutuhkan tidak hanya untuk menjaga roda ekonomi masyarakat pengrajin, tetapi juga mempertahankan kerajinan anyaman pandan sebagai warisan budaya lokal Kabupaten Pandeglang yang telah bertahan puluhan tahun.
“Kami berharap dukungan berbagai pihak dapat menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat penganyam sekaligus melestarikan kerajinan anyaman pandan sebagai warisan budaya lokal,” tutup Hady. ***
















