BANTENRAYA.COM – Himpunan Mahasiswa Indonesia atau HMI besok, Sabtu 5 Februari 2022 akan merayakan Milad HMI ke 75 Tahun atau Dies Natalis HMI 2022.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah salah satu organisasi massa yang ikut mengawal perkembangan Indonesia di awal kemerdekaan.
Untuk mengenang para petinggi HMI terdahulu, maka kita harus mengetahui sejarah awal terbentuknya organisasi ini.
Baca Juga: Lonjakan Kasus Aktif Covid-19, Menko Airlangga Gerak Cepat Menyiapkan Langkah-langkah Antisipasi
Maka dari itu, Bantenraya.com sajikan sejarah awal terbentuknya HMI berikut ini.
Mungkin untuk kamu yang berkuliah di Universitas Islam, pastinya sudah tidak asing lagi dengan organisasi HMI.
Karena sebagian mahasiswa dari Universitas Islam mengikuti organisasi luar seperti HMI.
Ternyata HMI lahir atas prakarsa 15 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI), yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) di tahun 1947.
Baca Juga: Raffi Ahmad Sedih Ingat Olga Syahputra saat Bertemu Rhoma Irama, Kenapa?
Lafran Pane saat itu menyadari bahwa Mahasiswa Islam pada era-nya belum memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam, karenanya ia mencetuskan ide untuk mendirikan HMI.
Hal ini disebabkan sistem pendidikan dan kondisi masyarakat yang belum terlalu mendukung pelaksanaan agama di dalam kehidupan sehari-hari.
Karena Lafran sangat peduli dan ingin mengubah keadaan, maka perlu membentuk sebuah organisasi.
Organisasi mahasiswa ini diharapkan dapat mengantarkan mahasiswa mengikuti pembaruan atau inovasi di berbagai bidang, sekaligus mengakomodasi pemahaman dan penghayatan ajaran agama yaitu agama Islam.
Dilansir Bantenraya.com dari laman HMI, pada 5 Februari 1947, Lafran Pane mengadakan rapat mendadak dengan mengambil waktu pada jam perkuliahan Tafsir.
Rapat tersebut dilakukan di salah satu ruang kuliah STI yang saat itu berdomisili di Jalan Setiodiningratan (Jalan Panembahan Senopati), Kota Yogyakarta.
Baca Juga: Tipu Belasan Pencari Kerja PT Nikomas, Oknum Polisi Dipecat Tidak Hormat
Lafran mengatakan persiapan untuk pembentukan organisasi mahasiswa Islam sudah beres. Lalu, ajakan Lafran tersebut disambut 14 mahasiswa STI lain yang hadir dalam rapat.
Akhirnya, terbentuklah HMI dengan menerima siapa pun yang ikut bergabung dan tidak menggubris lagi dengan siapa pun yang menentangnya.
Berikut daftar nama tokoh yang menghadiri rapat pembentukan HMI saat itu adalah sebagai berikut.
1. Lafran Pane (Yogya)
2. Karnoto Zarkasyi (Ambarawa)
3. Dahlan Husein (Palembang)
4. Siti Zainah (Palembang)
5. Maisaroh Hilal (Singapura)
6. Soewali (Jember)
7. Yusdi Ghozali ( Pendiri PII-Semarang)
8. Mansyur Anwar (Malang)
9. Hasan Basri (Surakarta)
10. Marwan (Bengkulu)
11. Zulkarnaen (Bengkulu)
12. Tayeb Razak (Jakarta)
Baca Juga: Ratusan Warga Serbu Minyak Goreng di Alfamart Narimbang Kabupaten Lebak
13.Toha Mashudi (Malang)
14. Bidron Hadi (Yogyakarta)
Ada dua tujuan yang hendak dicapai atas berdirinya HMI. Pertama, mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
Dalam rapat pendirian itu turut mengesahkan anggaran dasar HMI. Sementara untuk Anggaran Rumah Tangga dibuat kemudian.
Untuk mengukuhkan eksistensi HMI, maka dibentuk pengurus HMI yang pertama dengan susunan:
Baca Juga: Takrif Guru Besar di Indonesia
Ketua: Lafran Pane
Wakil Ketua: Asmin Nasution
Penulis I: Anton Timoer Djailani
Penulis II: Karnoto Zarkasyi
Bendahara I: Dahlan Husein
Bendahara II: Maisaroh Hilal, Soewali
Anggota: Yusdi Gozali, Mansyur Seiring
Berkat Lafran dan teman-temannya yang menjaga eksistensi HMI, kemudian organisasi Islam itu makin diterima oleh para mahasiswa muslim Indonesia.
Baca Juga: Denny Darko Ramalkan Ayus Sabyan dan Ririe Fairus Bakal Rujuk
Kini nama HMI makin besar dan memiliki banyak anggota mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di Indonesia.***

















