BANTENRAYA.COM – Krisis air bersih di Gaza adalah salah satu taktik dari negara Israel untuk membalas serangan Hamas.
Bukan hanya karena dampak bombardir dari Israel, krisis air bersih tersebut memang sengaja dilakukan Israel sejak pertengahan Oktober dengan memutuskan sumber air, listrik dan internet.
Dilansir bantenraya.com dari salah satu postingan dari akun Instagram @pandemictalks, krisis air bersih di Gaza tersebut membuat para wanita Palestina harus menunda menstruasi mereka.
Baca Juga: Profil Dio Novandra, Atlet Renang Nasional Pacar Megawati Hangestri Pratiwi yang Bucin Banget
Bukan hanya ketiadaan air bersih, para wanita Palestina juga kekurangan produk menstruasi seperti pembalut dan tampon.
Karena situasi tengah menuntut untuk beradaptasi, maka mau tidak mau para wanita Palestina harus meminum pil penunda menstruasi.
Diketahui bahwa pil yang mereka konsumsi adalah tablet norethisterone.
Obat tersebut biasanya diresepkan untuk kondisi seperti perdarahan menstruasi yang parah, endometriosis, dan nyeri haid.
Cara kerja obat tersebut dijelaskan oleh seorang konsultan medis kebidanan dan ginekologi di Nasser Medical Complex di selatan kota Khan Younis, Palestina, yaitu Dr. Walid Abu Hatab.
Dr. Walid menjelaskan bahwa tablet tersebut menjaga kadar hormon progesteron tetap tinggi untuk menghentikan rahim melepaskan lapisannya, sehingga hal tersebut menunda menstruasi.
Baca Juga: Dinkes Pandeglang Klaim Tak Ada Temuan Kasus Cacar Monyet, Penyeberan Bisa dari Kaum LSL
Namun setiap obat tentunya memiliki efek samping, terlebih lagi jika dikonsumsi oleh para perempuan yang tidak memiliki gejala menstruasi yang mengharuskan mereka meminum tablet norethisterone.
Dan meski termasuk obat resmi, pil tersebut dapat memberi efek samping seperti pendarahan vagina yang tidak teratur, mual, perubahan siklus menstruasi, pusing dan perubahan suasana hati.
Namun, resiko tersebut adalah hal yang harus diambil oleh para perempuan Gaza di tengah konflik yang masih memanas di tanah air mereka.
Serangan Israel yang bertubi-tubi kini telah merengut lebih dari 9 ribu korban jiwa.
Dan sebagian besar dari korban tersebut merupakan perempuan dan anak-anak.
Nevin Adnan yang merupakan seorang psikolog dan pekerja sosial yang berbasis di Kota Gaza menyebutkan kalau situasi peperangan akan berdampak pada mental para wanita Gaza juga.
Baca Juga: Ini Jadwal Film dan Serial Netflix yang Tayang November 2023, ada Gadis Kretek hingga Twilight!
Dia menjelaskan bahwa perempuan biasanya mengalami gejala psikologis dan fisik pada hari-hari sebelum dan selama menstruasi, misalnya saja perubahan suasana hati dan nyeri perut bagian bawah dan punggung.
Menurut Adnan, gejala-gejala tersebut dapat memburuk pada saat stres seperti perang yang sedang berlangsung.
“Mengungsi menyebabkan stres yang ekstrem dan itu mempengaruhi tubuh wanita serta hormonnya,” jelas Adnan. * * *


















