BANTENRAYA.COM – Nama Herman Willem Daendels tentu tak asing lagi karena nama ini sering muncul dalam buku sejarah di Indonesia.
Herman Willem Daendels yang kemudian dikenal dengan Daendels adalah pencetus pembangunan Jalan Anyer Panarukan atau sering disebut juga Jalan Daendels, memiliki panjang sekitar 1.000 kilometer (620 mi) di Jawa yang membentang dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur.
Namun sebelum membangun Jalan Anyer-Panarukan, Daendels ternyata lebih dulu membangun pangkalan militer di Ujung Kulon yang saat ini menjadi Kawasan Tama Nasional Ujung Kulon yang masuk ke wilayah Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang.
Fakta sejarah diatas setidaknya diungkap dalam makalah Djoko Marihandono berjudul strategi pertahanan napoleon Bonaparte di Jawa (1810-1811).
Baca Juga: Hari Pertama Kerja, Kehadiran ASN Pemkab Pandeglang Capai 99 Persen
Dalam makalahnya, Djoko Marihandono mencertikana bahwa Napoléon Bonaparte menobatkan dirinya menjadi kaisar Prancis pada tahun 1804. Untuk mengamankan Belanda sebagai salah satu koloni Prancis agar tidak jatuh ke tangan Inggris, Napoléon Bonaparte mengangkat adik kandungnya Louis Napoléon, yang dikenal sebagai panglima Divisi Grande Armée, sebagai raja Belanda. Dalam sejarahnya, Louis Napoléon memerlukan seorang panglima dalam upaya mempertahankan wilayah Groningen dan Friesland yang dikuasai oleh gabungan Inggris-Prusia.
Untuk memenuhi kebutuhannya itu, ia memanggil Herman Willem Daendels, mantan Komandan Divisi II Legion Etrangère dan Panglima Angkatan Darat Republik Bataf untuk memimpin pasukan Belanda dalam upaya mengusi pasukan asing di Groningen dan Friesland.
Raja Belanda Louis Napoléon memberikan perhatian besar kepada situasi politik di Eropa maupun di wilayah koloni. Ia melihat bahwa koloni Belanda di Hindia Timur, khususnya Jawa dalam kondisi terancam, lebih-lebih setelah Tanjung harapan jatuh ke tangan Inggris.
Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa Hindia Timur, khususnya pulau Jawa harus dipimpin oleh seorang militer yang kuat, yang mampu mempertahankan diri dari serangan Inggris dan memiliki potensi untuk membuat perubahan.
Louis Napoléon akhirnya memanggil Daendels, karena ialah satu-satunya perwira tinggi yang dianggap mampu untuk memperjuangkan kepentingan Prancis di Hindia Timur.
Setelah berkonsultasi dengan kakaknya, Kaisar Napoléon, ia mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan Daendels sebagai Gubernur Jenderal pada tanggal 29 Januari 1807, dengan mengemban dua tugas utama yakni, menyelamatkan pulau Jawa dari serangan Inggris dan membenahi sistem administrasi pemerintahan di wilayah koloni ini.
Baca Juga: Buntut Pemudik Tertabrak Kereta, Dishub Kabupaten Serang Imbau Petugas Jaga Lebih Waspada
Dalam menjalankan instruksi pertama Raja Louis Napoléon, Daendels menerapkan dua strategi pertahanan, yakni strategi pertahanan pantai dan strategi pertahaan darat. Sementara untuk membahas strategi pertahanan Daendels, akan digunakan konsep yang dikemukakan oleh G. Teitler, Anatomie van de Indische Defensie: Scenario’s, Plannen, Beleid 1892-1920, disertasi Universitas Kerajaan di Leiden, 1988.
Sebelum keberangkatannya ke pulau Jawa, Daendels direncanakan akan berangkat ke pulau Jawa dengan dikawal tiga kapal perang yang berkekuatan penuh di bawah pimpinan Laksamana AA Buyskess. Namun, persiapan keberangkatan ketiga kapal perang ini memerlukan waktu selama tiga bulan. Namun Daendels memutuskan untuk berangkat sendiri ke Jawa.
Daendels mendarat di Pelabuhan Anyer pada tanggal 1 Januari 1808. Dari Anyer, ia melanjutkan perjanalannya menuju ke Batavia dengan melalui jalan darat. Setelah menempuh perjalanan selama empat hari, ia sampai di Batavia dan langsung menghadap Gubernur Jenderal Albertus Henricus Wiesse yang segera akan digantikannya.
Dari Gubernur Jenderal Wiesse, ia memperoleh laporan tentang peristiwa penyerangan armada Inggris atas pulau Jawa. Pada tanggal 27 Nopember 1806, satu armada Inggris yang terdiri atas 7 kapal perang, muncul di Laut Jawa di bawah pimpinan Sir Edward Pellew.
Setelah Daendels menerima kekuasaan dari Gubernur Jenderal Albertus Henricus Wiesse tanggal 14 Januari 1808, tindakan pertama yang ia lakukan adalah membuka pangkalan armada laut yang dapat menampung kembali armada laut di Jawa.
Ada dua pangkalan yang direncanakannya, yakni pembangunan pelabuhan kapal perang di Teluk Meeuwen (Ujung Kulon) dan pelabuhan kapal perang dan fregat di Teluk Manari di Gresik (Van Deventer 1891: 347). Daendels melihat bahwa pembangunan pangkalan armada laut di Teluk Manari ini sangat strategis.
Baca Juga: 6 Kode Voucher Shopee Hari Ini, Belanja Hemat hingga Untung Ratusan Ribu Rupiah
Oleh karena itu, walaupun pembangunan pangkalan armada ini telah banyak memakan korban jiwa, tetap dilanjutkan.
Sumber lain yang dikutip Bantenraya.com dari akun Instagram @boimbaelah menyebutkan, dalam proses pembangunan pangkalan armada perang di Ujung Kulon tentu memerlukan banyak biaya dan tenaga kerja, baik tenaga orang orang Eropa maupun tenaga bumi putera.
Hal ini dikarenakan tempat yang dibangun kolonial Belanda terletak di daerah Ujung Kulon, salah satu daerah yang sangat rendah dan masih berupa hutan yang sangat lebat, sehingga untuk menuju ke tempat pembangunan armada perang tersebut, harus melewati berbagai jalan yang sulit dilalui dan tidak adanya penduduk, telah membuat kekurangan tenaga kerja untuk membuat jalan menuju daerah Ujung Kulon tersebut.
Dalam proses pembangunan infrastruktur pelabuhan armada perang di Teluk Meeuwen, Damdels membutuhkan pekerja rodi yang berjumlah 1.500 orang setiap hari di bawah koordinasi Patih Kesultanan Banten bernama Patih Wargadireja, tetapi permintaan Daendels ini harus mendapatkan persetujuan dari Sultan Muhammad Iskak Zainul Muttaqien
Untuk mempercepat proses pembangun pangkalan armada perang Belanda di Ujung Kulon, Gubemur Jenderal Daendels segera mendesak Sultan untuk menyediakan tenaga kerja sebanyak 1.500 orang perhari dengan tidak perlu membayar tenaga kerja atau tanpa upah. Suitan yang tidak mampu melakukan perlawanan terhadap pasukan militer Belanda telah menyetujui permintaan Daendels untuk mengirimkan 1.500 penduduk untuk menjadi tenaga kerja.
Dalam proses pembangunan pangkalan armada laut di Ujung Kulon terdapat berbagai hambatan dan kendala akibat jalur yang sulit ditempuh oleh para pekerja akibat wilayah yang masih berbentuk hutan dan rawa-rawa yang jarang terkena sinar matahari dan cuaca buruk yang sering terjadi telah mengakibatkan sebagian besar para pekerja terserang penyakit demam berdarah dan penyakit tulang yang berujung pada kematian.
Selain itu, penduduk Banten yang tidak terbiasa dengan kerja paksa dan kondisi wilayah ujung kulon yang belum memiliki udara yang sehat telah memakan banyak nyawa manusia dalam pangkalan pertahanan laut.
Situasi ini telah membuat pemerintahan kolonial Belanda menghentikan proyek pembangunan pangkalan militer di Ujung Kulon, karena banyak tenaga kerja yang mati di daerah berawa-rawa akibat banyak terkena penyakit. Sehingga, pembangunan dialihkan ke distrik. Anyer untuk mempermudah pemerintahan kolonial Belanda dalam menguasai Pulau Jawa. Gubernur Jenderal Daendels melakukan strategi alternatif dengan membuat jalan raya pos yang dimulai dari distrik Anyer di Ujung Jawa bagian Barat hingga Panarukan untuk mempermudah dan mempercepat pengelolaan administrasi.
Baca Juga: 6 Kode Voucher Shopee Hari Ini, Belanja Hemat hingga Untung Ratusan Ribu Rupiah
Namun, tidak disangka sebelumnya oleh Daendels, pangkalan ini sebelum selesai dibangun, dihancurkan oleh Inggris. Sebagai penggantinya, Daendels menjadikan pangkalan di Teluk Anyer sebagai pelabuhan armada laut dengan memasang 100 buah meriam di berbagai sudut pulau Gertrude. Namun, pembangunan pangkalan armada di Teluk Anyer juga dihentikan karena Inggris menyita semua peralatan perang yang berada di pelabuhan itu. ***















