BANTENRAYA.COM – Sesuai dengan kalender Hijriyah 1445 yang diunggah Kemenag RI, Nisfu Syaban jatuh pada 25 Februari 2024.
Lantas, kapan waktu terbaik membaca doa malam Nisfu Syaban?
Doa malam Nisfu Syaban dengan demikian dibaca sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dan meminta ampunan kepada-Nya.
Seperti diketahui, malam Nisfu Syaban merupakan waktu penuh berkah yang diyakini bahwa Allah SWT akan mengabulkan segala permohonan hamba-Nya.
Selain itu, bulan Syaban diyakini menjadi waktu penetapan rezeki, ajal, dan takdir manusia yang ditetapkan Allah SWT untuk setahun ke depan.
Pada pertengan bulan Syaban ini, umat muslim dianjurkan untuk melakukan amalan-amalan baik seperti memperbanyak dzikir, sedekah, puasa, sholat sunnah, dan membaca Al-Qur’an.
Jika melihat pada ketetapan Kalender Hijriah Indonesia, malam Nisfu Syaban berarti jatuh pada Sabtu malam, 24 Februari 2024.
Adapun waktu terbaik membaca doa malam Nisfu Syaban adalah selepas sholat Maghrib atau setelah matahari tenggelam.
Ada beberapa doa yang dapat dibaca pada malam tersebut, salah satu doa yang pernah dibaca Rasulullah SAW berbunyi:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana.
Artinya: “Ya Allah berkatilah kami pada bulan Rajab dan bulan Syaban. Sampaikan kami dengan bulan Ramadan.”
Selain itu, melansir dari laman Nahdatul Ulama, ada doa lain yang dapat dibaca secara berjamaah sambil membaca surat Yasin sebanyak 3x.
Yasin pertama ditujukan meminta panjang umur lalu membaca doa malam Nisfu Syaban. Yasin kedua meminta dimudahkan rizki yang halal lalu membaca doa dan terakhir meminta ditetapkanya iman sampai akhir hayat.
Berikut doa yang dibaca 3 kali setelah selesai membaca masing-masing Yasin:
اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ
اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنَا عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيْنَا فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتَنَا وَحِرْمَانَنَا وَاقْتِتَارَ رِزْقِنَا، وَاكْتُبْنَا عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ”
Baca Juga: Begini Cara Kapolres Pandeglang Ikut Rayakan Hari Pers Nasional
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn.
Allāhumma in kunta katabtanā ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alaynā fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatanā, wa hirmānanā waqtitāra rizqinā, waktubnā ‘indaka su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yahmhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.
Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan.
Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.
Baca Juga: Ahli Waris Anggota KPPS di Kota Serang yang Meninggal Dunia Terima Santunan Rp 5 Juta
Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.***



















