BANTENRAYA.COM – Hari Santri Nasional adalah sebuah momen yang selalu diabadikan setiap tanggal 22 Oktober.
Penetapan 22 Oktober sebagai peringatan Hari Santri Nasional tidak terlepas dari janji kampanye presiden Jokowi Dodo.
Melalui Keputusan Presiden (Kepprres) Nomor 22 Tahun 2015 maka secara sah Hari Santri Nasional bisa diperingati setiap 22 Oktober
Baca Juga: Big Match! Link Streaming Liverpool vs Manchester City Hari Ini 16 Oktober 2022, Nunez atau Halland?
Lalu bagaimana sejarah dengan penetapan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober? Berikut penjelasannya dikutip Bantenraya.com dari berbagai sumber.
Setelah merdekanya Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan Soekarno dan Moh. Hatta tidak serta merta bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penjajah.
Melansir berbagai sumber mengatakan, pada tanggal 29 September 1945 pasukan sekutu yaitu Inggris berhasil mendarat di tanah air.
Baca Juga: Identitas 7 Tahanan yang Kabur Hanya Bermodalkan Sendok di Bekasi
Kedatangan mereka mengaku hanya untuk membebaskan tawanan penjajah sekaligus melucuti serta memulangkan tentara Jepang.
Pasukan yang balik ke Indonesia tersebut dikomando oleh Letnan Jenderal Sir Phillip Christison dengan misi yang telah dijelaskan di atas.
Indonesia yang waktu itu baru merdeka, mengizinkan pasukan Inggris untuk menjemput para tahanan serta membebaskan para tentara Jepang dengan satu syarat tidak boleh ada pasukan dari Belanda yang menyusup.
Tujuan dari Indonesia memperboleh pasukan Inggris adalah demi mendapat pengakuan dari negara sekutu bahwa negara yang selama ini ia jajah telah merdeka.
Atas tawaran dari Indonesia, Inggrispun menyanggupi. Namun di tengah perjalanan ternyata sekutu Inggris menghianati atas kesepakatan tersebut.
Mereka yang menamai pasukan Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) ternyata secara bersembunyi menyusupkan sebuah bala tentara dari Netherlands Indies Civil Administration (NICA) untuk masuk ke Indonesia.
Baca Juga: Profil Dedi Moch Jamasari, Pemeran Gobang yang Digadang Bakal Comeback di Preman Pensiun 7
Masuknya para pasukan NICA membuat para laskar pejuang menaruh curiga dan bersiap untuk melakukan perlawanan di masing-masing daerah.
Karena adanya rasa curiga yang besar dan ditemukan hasil bahwa tentara AFNEI telah menyelundupkan NICA membuat gejolak pertumpahan darah terus terjadi diantara para laskar pejuang.
Melihat kondisi tersebut Presiden Indonesia yaitu Soekarno saat itu, mengutus anak buahnya untuk menemui salah satu pendiri ormas islam yaitu Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Baca Juga: Lirik Mars Hari Santri Nasional 22 Oktober 45 Resolusi Jihad Panggilan Jiwa
Kedatanganya tidak lain adalah untuk meminta pendapat KH Hasyim Asyari mengenai masalah negeri sekaligus Soekarno cuga mencurahkan isi hatinya bahwa sampai bulan Oktober Indonesia belum mendapat pengakuan dari negara lain bahwa telah merdeka.
Atas permintaan sang proklamator membuat KH Hasyim Asyari meminta para pejuang Nahdlatul Ulama yang ada didaerah Jawa dan Madura untuk berkumpul demi menemukan solusi permasalahan yang terjadi.
Tiba saatnya mereka di Markas Ansor Surabaya pada 21 Oktober 1945 dengan para Kyai-Kyai NU dengan satu tujuan yaitu mengatasi permasalahan adanya kedatangan para sekutu ke Indonesia.
Baca Juga: Kapan BSU Tahap 6 Cair? Ini Jadwal Pencairan dan Penjelasan Kemnaker
Pada puncaknya musyawaroh yang dilakukan para Kyai NU menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa membela tanah air adalah sebagai bentuk kewajiban bagi umat islam, dari hasil kesapakatan tersebut maka dikenal sebagai Resolusi Jihad.
Dari hasil tersebut membuat para kaum santri yang mendengar petuah dari guru ngajinya, menjadikan bela negara adalah hal yang wajib dilakukan demi terbebasnya bangsa Indonesia dari kaum penjajah.
Salah satu dampak yang terasa dari Resolusi Jihad adalah dengan tragedi 10 November 1945.
Dimana laskar Surabaya dan santri Bersatu melawan pasukan Brigade 49 Sekutu yang dipimpin AWS Mallaby
Pertempuran tiga hari berdarah tersebut memakan banyak korban dari kalangan santri, mereka melakukan perlawanan di sejumlah tempat diantaranya Jembatan Merah, Wonokromo, Waru, Buduran dan lain-lain.
Hasil pertempuran tersebut, membuat rakyat Surabaya menjadi pemenang dengan tewas jenderal dari Inggris tersebut. ***

















