BANTENRAYA.COM – Ratu Elizabeth II dikabarkan meninggal dunia pada Kamis, 8 September 2022 pukul 18.31 waktu setempat.
Namun, Ratu Elizabeth II baru akan dimakamkan setelah 10 hari, tepatnya pada 19 September 2022.
Apakah jasad Ratu Elizabeth II tidak akan membusuk jika dimakamkam setelah 10 hari kematiannya?
Baca Juga: Update Jadwal Tayang Drakor Big Mouth Episode 15 dan 16 Tamat Full Movie Lengkap dengan Alur Cerita
Lalu bahan apa yang dipakai untuk mengawetkan jenazah Ratu Elizabeth II hingga awet selama 10 hari?
Pertanyaan tersebut mungkin muncul dibenak Anda, karenanya artikel ini akan mengulas tentang bahan yang dipakai kerajaan Inggris agar jasad Ratu Elizabeth II awet selama 10 hari.
Kabar meninggalnya Ratu Elizabeth II mungkin menyisakan luka bagi seluruh dunia, terutama Inggris.
Baca Juga: Drakor The Law Cafe Episode 3 dan 4 Tayang di Viu Jam Berapa? Ini Link Nonton dengan Sub Indo
Karena Ratu Elizabeth II telah memimpin kerajaan Inggris selama 70 tahun, dan masa pemerintahannya merupakan terlama sepanjang sejarah.
Ratu Elizabeth II meninggal dunia di usianya yang ke-96 tahun di Istana Balmoral, Skotlandia. Dan kini jenazahnya masih bersemayam di sana.
Kemudian Ratu Elizabeth II akan dimakamkan di Kapel Memorial Raja George VI Windsor, tempat peristirahatan terakhir orang tua dan suaminya, Pangeran Philip.
Baca Juga: Cat Lovers Wajib Tahu! 5 Arti Gerakan Ekor Kucing, Nomor 2 Anda Harus Berhati-hati
Jenazah Ratu Elizabeth II dimakamkan pada Senin, 19 September 2022 yakni 10 hari setelah hari kematiannya.
Agar jenazah Ratu Elizabeth II awet, dan tidak mengeluarkan bau busuk selama 10 hari itu tentunya digunakan bahan pengawet.
Bahan pengawet yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat adalah formalin.
Baca Juga: Profil Handi Setiana Pemeran Yayat di Preman Pensiun 6: Rela Pinjam HP Teman Demi Bisa Ikut Casting
Dilansir dari NCBI, mengawetkan mayat telah menjadi hal yang penting sebagai langkah untuk mempelajari tubuh manusia dengan lebih baik.
Mayat yang diawetkan disebut juga dengan cadaver. Cadaver diawetkan dengan menyuntikkan atau merendamnya dalam cairan formalin.
Pengawetan tersebut bertujuan untuk menjaga mayat dari kerusakan dan dekomposisi.
Penggunaan ini terus dikembangkan dengan mencampur formalin dengan beberapa bahan tambahan lainnya untuk meminimalisir efek negatif dari formalin.
Contohnya yang dilakukan oleh Erskine pada tahun 1961. Beliau menambahkan gliserol, fenol, sodium arsenat, asam salisilat, dan 6-chlortymol.
Campuran ini terbukti menambahkan efek fungisida atau anti jamur.***



















