BANTENRAYA.COM – Keluarga Besar Alm KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bermaksud menggelar doa bersama dan peringatan haul Gus Dur ke 12.
Doa bersama dan haul Gus Dur ke – 12 sekarang yang digelar pada 30 Desember 2021 akan dilakukan via zoom meeting serta disiarkan live youtube.
Nantinya dalam doa bersama dan haul Gus Dur ke 12 akan juga disampaikan testimoni Duta Besar, Tokoh Nasional, Tokoh Agama, Seniman, Sahabat dan Murid Gus Dur.
Baca Juga: Amalkan Do’a Akhir Tahun Untuk Menyambut Tahun Baru Penuh Berkah
Dikutip BantenRaya.com dari instagram @yennywahid anak Gus Dur, dalam haul nanti akan diangkat Tema Bangkit Bersama dengan Bahagia. Doa bersama dan haul tersebut juga akan dilaksanakan di 3 titik yakni kediaman Gus Dur di Ciganjur, Pondok Pesantren Tebuireng, dan Kedutaan Indonesia di Negara Jerman.
“Sebuah Kehormatan bapak atau Ibu, saudara dan saudari, sahabat – sahabat semua berkenan hadir untuk mendoakan dan mengenang Alm KH. Abdurrahman Wahid. Haul akan dilaksanakan pada pukul 19.30,” katanya dalam instagram.
Yenny menuliskan, jika nilai dan teladan Gus Dur tak pernah pergi. Hingga kini, pemikiran dan pandangan beliau terus menemukan relevansinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga: Terbaru, 10 Link Twibbon HUT SATPAM Keren dan Gratis Untuk Dibagikan di Media Sosial
“Saya ingat, pada 2011 silam, sejumlah sahabat dan murid Gus Dur menggelar sebuah simposium untuk mengkaji, memikirkan kembali, dan merumuskan 9 nilai utama almarhum,” jelasnya.
“Kesembilan nilai itu adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesantrian, dan kearifan lokal,” ungkapnya.
Bagi Yenny, Gus Dur adalah sosok ayah, guru, dan teladan yang mengajari dan meneguhkan nilai-nilai yang hingga kini terus saya perjuangkan. Misalnya, soal kesetaraan gender. Tak hanya sebatas pemikiran dan pandangan, tapi laku beliau sejalan dengan kata-katanya.
Baca Juga: Man City Kalahkan Brentford 1-0, Pep Guardiola: Perburuan Gelar Liga Inggris Belum Usai
“Di keluarga kami, Gus Dur tak segan menjalankan tugas mengganti popok, mencuci piring, dan mengerjakan tugas rumah tangga lainnya. Ia pun memberi ruang kepada Ibu untuk berkiprah dan mengaktualisasikan diri sebagai pengajar, wartawan, dan aktivis,” paparnya.
“Tanpa dibatasi oleh konstruksi sosial soal pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, Ibu dan Gus Dur berbagi peran sebagai tulang punggung keluarga,” tegasnya. ***















