BANTENRAYA.COM – Sebanyak 25 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di Kabupaten Serang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Satuan Tugas atau Satgas Percepatan Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis atau MBG Muhammad Najib Hamas saat meninjau pendistribusian menu MBG di Yayasan Syifa Fikriya di Kecamatan Cikande.
Najib mengatakan, jumlah dapur SPPG di Kabupaten Serang baru ada 55 unit dari jumlah kebutuhan dapur SPPG sebanyak 120 dapur dan yang sudah punya SLHS baru 30 dapur.
“Nanti secara bertahap, setiap pekan ada dapur yang beroperasi sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. Dari 55 itu 30 dapur yang sudah memiliki SLHS,” ujarnya, Jumat 9 Januari 2026.
Ia menjelaskan, walaupun sudah beroperasi namun SPPG Syifa Fikriya juga belum memiliki SLHS yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan atau Dinkes Kabupaten Serang.
BACA JUGA: Kunjungi Yayasan Syifa Fikriya, Najib Hamas Temukan Siswa Tak Terbiasa Makan Nasi MBG
“Secara porsi sudah cukup dan rasa juga sudah pas. Tinggal manajemen dapur yang perlu ditindaklanjuti seperti sertifikat laik higiene sanitasinya,” katanya.
SLHS kata Najib, harus diterbitkan untuk memastikan makanan yang disajikan sehat dan kandungnya sesuai dengan porsi makanan yang diberikan kepada siswa.
“Untuk memastikan bahwa kualitas makanan itu adalah higienis. Karena tadi (9 Januari 2026) ada beberapa siswa yang antusias untuk menerima MBG,” jelasnya.
Najib menuturkan, ada dua orang siswa yang belum terbiasa makan nasi sehingga hanya mengkonsumsi makanan menu lain seperti susu dan buah-buahan.
“Jadi nanti kita coba edukasi, ada satu dua anak enggak biasa makan nasi. Tetapi protein susu mereka minum setiap hari. Nanti dibiasakan untuk sarapan atau makan nasi,” jelasnya.
BACA JUGA: Dapur MBG Dinilai Ujung Tombak Turunkan Angka Stunting di Pandeglang
Ketua Yayasan Syifa Fikriya Sujimin mengatakan, pekerja di dapur SPPG akan mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) pada hari Kamis 14 Januari 2026.
“Bimtek terkait dengan beberapa sertifikasi yang dipersyaratkan oleh pemerintah. Kalau chefnya kita sudah tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikat Profesi,” ungkapnya.
Untuk siswa yang tidak suka makan nasi, pihaknya bakan berupaya mengedukasi supaya bisa membiasakan makan nasi.
“Ikhtiar sekolahan dalam hal ini guru tentu akan mengedukasi beberapa anak yang tidak suka nasi. Kita juga akan sampaikan ke orangtua yang bersangkutan,” katanya.***















