BANTENRAYA.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mencatat kerugian yang dialami akibat bencana hidrometeorologi dalam periode Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 di Kabupaten Lebak mencapai Rp23,7 miliar.
Kerugian yang dialami disebut cukup signifikan, terlebih angka yang muncul hanya dalam periode satu bulan. Selain kerugian materil, tiga nyawa dinyatakan melayang.
“Kerugian infrastruktur akibat banjir dan longsor mencapai Rp23 miliar. Sementara kerusakan rumah berdasarkan estimasi sebesar Rp700 juta,” kata Kepala BPBD Lebak, Sukanta saat diwawancara di kantornya pada Selasa, 6 Januari 2026.
Di sisi lain, Sukanta merincikan bahwa ada setidaknya 530 rumah warga terdampak banjir dan longsor selama periode yang sama.
Sementara itu, pihaknya mencatat kerusakan infrastruktur terjadi pada 29 titik. Adapun bencana yang melanda dirasakan langsung oleh 22 desa di Kabupaten Lebak.
Dari total rumah yang terdampak, 155 unit diantaranya dilaporkan mengalami kerusakan, baik kategori berat, sedang maupun rusak ringan.
Adapun pemicu bencana hidrometeorologi yang terjadi di Lebak merupakan akibat curah hujan yang tinggi dan berlangsung dalam waktu lama hingga campur tangan manusia.
“Dampak yang ditimbulkan cukup besar pada bencana akhir tahun 2025 kemarin,” imbuhnya.
Dalam penanganan dampak banjir dan longsor Lebak, Sukanta menyampaikan bahwa BPBD Kabupaten Lebak terus melakukan koordinasi lintas sektor. Salah satunya dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk mempercepat penanganan kerusakan jalan dan infrastruktur vital.
“Kami selalu berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan kebencanaan itu,” ujar Sukanta.
Selain itu, BPBD Lebak juga berkoordinasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk mengantisipasi potensi banjir susulan. Upaya yang dilakukan antara lain pembangunan saluran pembuangan air di bawah badan jalan.
Sukanta mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor Lebak agar meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari 2026.
“Kami minta warga yang tinggal di lokasi rawan bencana alam, bila cuaca ekstrem yang ditandai hujan sangat lebat disertai angin kencang, sebaiknya mengungsi ke tempat yang lebih aman,” tandasnya. ***

















