BANTENRAYA.COM – Anak muda atau generasi muda yang fokus terhadap ekosistem lingkungan, menyoroti soal false solutions merujuk pada berbagai solusi cepat yang tampak meyakinkan.
Namun, saat dilihat dari dekat, solusinya justru membuat polusi tetap berjalan dan industri fosil terus hidup.
Geographic Information System Analyst dari Trend Asia Fathan Mubina mengatakan, false solutions adalah distraksi teknokratis yang memberi jalan bagi korporasi untuk terus menghasilkan emisi dan merusak hutan, sambil mengabaikan krisis yang sedang kita hadapi,
“Solusi carbon market, debt swap, Carbon Capture and Storage (CCS) dan Tropical Forest Forever Facility (TFFF) tidak menyelesaikan semakin seringnya banjir rob, intrusi air laut, dan amblasnya tanah di Demak, Jepara, Pekalongan, Semarang, hingga Cirebon yang diikuti dengan hilangnya ratusan hektar lahan pertanian, sampai relokasi paksa ribuan keluarga,” kata Fathan dalam keterangan resminya dikutip Bantenraya.com, Jumat 19 Desember 2025.
BACA JUGA: Bibit Siklon 93S Aktif, Potensi Cuaca Ekstrem di Banten Diperpanjang hingga Periode Natal
Di tengah kenyataan yang kian pahit ini, generasi muda Indonesia melihat satu pola yang sama, bencana terus memburuk, tetapi solusi yang ditawarkan justru makin menjauh dari akar persoalan.
Fathan melanjutkan, hutan dan ruang hidup masyarakat dihitung sebagai aset yang bisa dibeli untuk menutupi emisi, sementara kerusakan di lapangan tetap berlangsung dan perusahaan tetap bebas menjalankan bisnis fosilnya.
“Kalau kita bicara transisi berkeadilan, maka langkah pertama adalah menghentikan pembangunan yang sifatnya ekstraktif. PLTU baru, smelter yang ditopang PLTU captive PLTU yang dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan industri, seperti pabrik smelter nikel, untuk memenuhi kebutuhan listriknya sendiri) dan perluasan tambang, justru membuat kita makin bergantung pada energi fosil. Itu bukan jalan keluar,” cakapnya.
Koordinator Climate Rangers (CR) Indonesia Ginanjar Ariyasuta menegaskan, krisis iklim adalah isu antargenerasi, dan generasi muda tidak lagi bisa menerima lambannya aksi pemerintah.
“Kita sedang krisis, dan yang dibutuhkan adalah penurunan emisi secara cepat. Solusi palsu yang tidak menyelesaikan sumber masalah hanya akan memindahkan beban transisi ke generasi yang akan datang,” ujarnya.
BACA JUGA: Dear Warga Cilegon, Hati-hati Cuaca Ekstrem Rawan Muncul Hewan Liar Ke Pemukiman
Menurutnya, solusi berbasis pasar dan teknologi seringkali terlihat seksi dan menarik namun gagal mendorong pengurangan emisi yang berarti.
Pernyataan Ginanjar bukan hanya ungkapan frustrasi generasi muda, tetapi cermin dari kenyataan yang setiap hari dihadapi komunitas paling rentan di garis depan krisis iklim.
“Jangan omon-omon. Generasi kami sudah banyak dirugikan dari degradasi kualitas lingkungan. Nasib generasi yang akan datang ditentukan kebijakan hari ini. Kami berhak mendapat masa depan yang adil, lestari, dan sejahtera,” tegasnya.***



















