BANTENRAYA.COM – Camat Walantaka Karsono berharap program penanganan stunting dan gizi buruk bisa terus berkesinambungan, agar penanganan kasus tersebut terus berkurang dan bahkan lenyap.
Karsono mengatakan, program inovasi yang digagasnya tersebut dimulai sejak tahun 2020 yang tersebar di 14 kelurahan.
Namun pihaknya hanya baru mampu melakukan intervensi selama empat bulan dalam setahun, lantaran anggarannya terefocusing.
Baca Juga: Bukan Cuma Sembako, Warga Gerem Minta Rekrutmen Karyawan Industri Prioritaskan Warga Lokal
“Sementara ini masih 4 bulan sampai mulai bulan ini, September-Desember. Karena anggarannya direfocusing. Dibiayai dari APBD karena itu program pusat. Kan harus berkesinambungan kalau enggak, enggak bisa. Nanti turun lagi gizinya,” ujar Karsono, dihubungi bantenraya.com, Rabu 29 September 2021.
Ia mengaku belum mengetahui secara detail mengenai jumlah kasus stunting dan gizi buruk di wilayahnya.
“Sebenarnya enggak banyak, cuma balita yang mengarah ke gizi buruk kan ada juga itu yang perlu kita. Kalau jumlahnya puskesmas yang tahu. Cuma target kita per kelurahan 20 orang. Itu campuran ibu hamil sama yang gizi buruk, yang menuju gizi buruk,” jelas dia.
Baca Juga: Kata Zoya Amirin, Ukuran Anu Pria Yang Baik Bukan Seperti Penggaris Sekolah Tapi Seperti Ini
Karsono mengklaim dua tahun program inovasinya berjalan sudah menunjukkan progres yang bagus.
“Sudah 2 tahun berjalan. Hasilnya sudah ada peningkatan. Dari puskesmas sudah tidak ada lagi keluhan-keluhan balita yang mengalami gizi buruk,” akunya.
Menanggapi hal ini, Walikota Serang Syafrudin mengapresiasi program inovasi yang digagas Kecamatan Walantaka. Menurutnya, dapur gizi ini untuk penanganan stunting dan gizi buruk.
Baca Juga: Sewa Tempat Isolasi Mandiri Trans Hotel Tidak Diperpanjang, Ini Alasan BPBD Cilegon
“Ini sudah dilaksanakan karena memang ada anggarannya. Kaitan baru empat bulan yah nanti kan bertahap kita kan baru di perubahan,” katanya. ***




















