BANTENRAYA.COM – Sebenarnya apa arti kata dari Cap Go Meh yang sering kita dengar belakangan ini.
Kata-kata Cap Go Meh mulai sering terdengar, terutama menjelang hari besar warga Tionghoe yakni Tahun Baru Imlek.
Cap Go Meh menjadi kata populer di periode tersebut bersama dengan istilah identil lainnya di Tahun Baru Imlek yakni Gong Xi Fa Cai.
Baca Juga: Kecolongan Di Menit Akhir, Inter Milan Tertahan di Peringkat 4 dan Gagal Salip Juventus
Seperti saat ini, menjelang Tahun Baru Imlek Kelinci Air yang jatuh pada 22 Januari 2023, istilah Cap Go Meh kembali naik daun.
Cap Go Meh selalu diidentikkan dengan sebuah perayaan besar dalam rangakian peringatan Tahun Baru Imlek.
Untuk tahu arti kata Cap Go Meh, berikut Bantenraya.com ungkap seperti dikutip dari berbgaai sumber.
Baca Juga: Ada MasterChef Indonesia 10, Simak Jadwal Acara RCTI 8 Januari 2023 Secara Lengkap di sini
Kata Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien, cap go yang berarti 15 dan meh yang berarti malam.
Dengan kata lain Cap Go Meh sendiri adalah malam ke-15 dalam hari pertama tahun baru dalam kepercayaan etnis Tionghoa.
Cap Go Meh menjadi penutup dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya digelar sebuah kegiatan-kegiatan.
Baca Juga: TAMAT! Spoiler Alchemy Of Souls Season 2 Episode 10: Jang Uk dan Naksu Menikah Happy Ending
Perayaan Cap Go Meh disebut sebagai sebuah ritual untuk menghormati dewa tertinggi di Dinasti Han.
Namun dalam ajaran agama Konghucu diperingati sebagai berdoa kepada orang tua memohon kepada Tuhan atau Tian.
Tapi tahukah Anda jika sebutan Cap Go Meh sendiri hanya dikenal di Indonesia saja. Hal tersebut dikarenakan pengaruh dari bahasa Hokkien.
Baca Juga: Indonesia vs Vietnam Berakhir Skor Kacamata, Penyakit Lama Tim Garuda Kambuh?
Di dunia internasional, Cap Go Meh lebih dikenal dengan kegiatan festival lentera atau lantern festival.
Sedangkan di wilayah Tiongkok sendiri, perayaan tersebut lebih dikenal sebagai Yuánxiojié atau Shàngyuánjié.
Sejarah Cap Go Meh
Cap Go Meh berawal dari Dinasti Han sekitar 206 sebelum masehi hingga 220 masehi.
Baca Juga: Sinopsis Film Alena Anak Ratu Iblis yang Sedang Tayang di Bioskop, Alur Ceritanya Menarik
Di periode tersebut para biksu Buddha secara bersamaan menyalakan lentera pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek dnegan tujuan untuk menghormati Sang Buddha.
Ritual tersebut dilihat oleh masyarakat yang akhirnya mengikutinya hingga menyebar di seluruh wilayah China dan beberapa negara di Asia.
Selain sejarah tersebut, ada juga legenda yang menyebutkan jika asal usul festival lentera berawal dari Kaisar Giok atau Jade Emperor (You Di).
Baca Juga: Profil Aquene Djorghi Pemeran Amel di Si Doel The Series, Ternyata Anak dari Pasangan Artis Kenamaan
Kaisar tersebut marah pada penduduk di sebuah kota lantaran angsa miliknya telah terbunuh.
Akibatnya, Kaisar Giok pun bakal membakar kota tersebut sebagai bentuk hukuman namun rencana itu gagal terlaksana.
Sebelum Kaisar Giok melaksanakan niatnya, para peri meminta warga untuk menyalakan lentera di seluruh penjuru kota.
Baca Juga: Pemilu 2024 Makin Dekat, Prabowo Subianto Mulai Kirim Sinyal Soal Arah Koalisi Gerindra
Kaisar Giok yang melihat cahaya berkobar dari lentera, mengira bahwa kota itu telah dilalap api, sehingga membatalkan rencananya.
Dari saat itulah setiap hari ke-15 Tahun Baru Imlek, warga menggelar festival lentera sebagai bentuk rasa syukur. ***


















