BANTENRAYA.COM – Akibat penyerapan produk dari pembeli utama dihentikan sejak Februari 2026, produk kerajinan di dua kecamatan di Pandeglang menumpuk.
Saat ini setidaknya ada 2.000-an hasil kerajinan pandan yang seharusnya diekspor malah masih menumpuk di gudang.
Diketahui, di Kabupaten Pandeglang ada dua serta pembuatan kerajinan daun pandan. Keduanya ada di Kecamatan Banjar dan Kecamatan Mekarjaya.
Di Kecamatan Banjar, kerajinan biasa dikumpulkan oleh Mutiara Hady dari perusahaan Sinar Harapan. Sementara di Kecamatan Mekarjaya biasa dikumpulkan oleh Rukmanah dari perusahaan Mekar Jaya.
Menurut Mutiara Hady, pengelola Pandan’s Craft Banten dan Sinar Harapan, akibat penghentian pembelian yang telah dikonfirmasi pada Februari 2026 membuat hasil kerajinan masyarakat di dua kecamatan tersebut menumpuk.
BACA JUGA: Maaf! THR ASN Pemkab Serang Belum Bisa Cair, Ini Alasannya
Padahal, selama 30 tahun ke belakang masyarakat mendapatkan penghasilan dari usaha tersebut.
“Yang saat ini ada sekitar 2.000 pcs lebih. Kurang lebih harganya 30 jutaan,” ujar Hady, Minggu (1/3/2026).
Hady mengungkapkan, hasil kerajinan yang saat ini masih menumpuk adalah topi yang biasanya diekspor ke Itali dan Korea. Sekali mengirim biasanya mencapai 3.000-an pcs.
Sementara untuk mengekspor produk ini biasa sekali naik ke kapal dibutuhkan 12.000 pcs untuk bisa berangkat ke negara tujuan ekspor.
Dia menyatakan, sudah melakukan komunikasi dengan Bank Indonesia Provinsi Banten agar bisa membantu menyerap hasil kerajinan topi ini.
BACA JUGA: Tinggal Klik! Link CCTV Jalur Protokol Kota Serang Biar Mudik Lebaran 2026 Lancar Tanpa Kendala
Dia berharap dengan jejaring yang dimiliki Bank Indonesia Provinsi Banten bisa mengupayakan agar produk ini laku terjual sehingga tidak menumpuk dan warga mendapatkan keuntungan dari hasil kerja mereka.
Hady juga sedang berkomunikasi dan mengupayakan agar Pemerintah Provinsi Banten bisa membantu penyerapan produk pandan.
Kerajinan pandan sendiri di Pandeglang tercatat sudah ada sejak tahun 2007. Hady mengungkapkan, kerajinan itu sudah ditekuni oleh kakek nenek dan neneknya dan saat ini menjadi kerajinan yang diwariskan secara turun-temurun.
Bahkan, dia menduga kerajinan ini sudah eksis sejak zaman penjajahan.
Selain melayani komunitas ekspor, kerajinan pandan juga melayani pesaanan dari domestik, seperti tikar untuk pembungkus jenazah, wadah botol, tas wanita, topi, dan lain-lain.
BACA JUGA: Pendaftaran Dibuka Hari Ini, Kemenhub Siapkan Mudik Gratis untuk 34 Daerah Tujuan
Kini, masyarakat di Kecamatan Banjar dan Kecamatan Mekarjaya menunggu action yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Banten maupun Pemerintah Provinsi Banten untuk bisa menyerap produk mereka di pasaran.***


















