Sebelumnya, Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Cilegon Tahyar menjelaskan, Muhammadiyah akan ikut dalam ketentuan yang sudah ditetapkan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah sejak 6 bulan lalu.
Dimana, 1 Ramadan akan jatuh pada Rabu 18 Februari 2026. Kendati berbeda, pihaknya menghargai masyarakat yang akan melakukan puasa pada Kamis 19 Februari 2026.
“Kalau Muhammadiyah dari PP sudah 6 belum sebelumnya sudah menetapkan 1 Ramadan Insya Allah jatuh pada 18 Februari besok. Kita menghargai juga masyarakat yang melaksanakan pada 19 (Februari 2026-red), lalu pemerintah juga akan mengumumkan,” ucapnya.
Tahyar menyampaikan, pada malam harinya pihaknya akan menggelar tarawih. Dimana tarawih untuk warga Muhammadiyah akan dilakukan pada Selasa 17 Februari 2026 petang.
“Salat Tarawih kami warga Muhammadiyah akan dimulai malam ini di UBK (Umar Bin Khattab),” ujarnya.
Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Cilegon Arief Syarifudin menyatakan, menjelang penentuan awal Ramadan yang dilakukan melalui Rukyatul Hilal (Ru’yah) dan Sidang Isbat Pemerintah Pusat. Pihaknya mengimbau masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah dan masyarakat Kota Cilegon secara umum, untuk menyikapi potensi perbedaan dengan bijaksana.
“Perbedaan itu adalah rahmat. Kita harus menyikapinya dengan kedewasaan dan kebersamaan. Perbedaan jangan dijadikan sumber perpecahan, tetapi justru menjadi pusat perbaikan untuk semua masyarakat, khususnya di Kota Cilegon,” ujarnya.
Hal sama disampaikan, Pengasuh Ponpes Bani Latif Cibeber Fadlun Adzim menjelaskan, pihaknya menggunakan hisab dan perkiraan ru’yah dalam menentukan perkiraan awal puasa.
Di mana, menurutnya pada Rabu 18 Februari 2026 posisi bulan masih dibawah 2 derajat, sehingga 1 Ramadan 1447 H mundur pada Kamis 19 Februari 2026.
“Hisab dan perkiraan Ru’yah sama karena dibawah standar jadinya penanggalan dimundurkan, di bawah 2 derajat itu diundurkan,” jelasnya, Selasa 17 Februari 2026.
Adzim menyatakan, penentuan tersebut sepertinya akan sama dengan pemerintah. Dimana, itu akan jatuh pada Kamis 19 Februari 2026 untuk awal Ramadan.
Kendati begitu, baik metode Hisab dan Rukyatul Hilal tidak ada pertentangan, artinya keduanya sah secara syariat.
“Bukan menentukan hanya sebatas perkiraan dan perkiraan itu sesuai dengan kenyataan, sama seperti melihat dzuhur itu kan sudah melihat mayat tahi. Yah menunggu Ru’yah secara standar fikih yah Ru’yah. Tapi keduanya baik hisab dan Ru’yah tidak bertentangan, Insya Allah pada Kamis,” jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Lembaga Falakiyah Al-Khairiyah, Muhamad Nurdin, mengatakan, hisab menjadi metode menentukan awal bulan di kalender Hijriyah. Dimana, itu melihat posisi ketinggian hilal.
“Secara internal kita sudah menetapkan hisab dengan awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah. Penetapan hisab ini memang pada hitungan angka hilal terkait berapa ketinggian derajatnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil perhitungan, ketinggian hilal untuk awal Ramadhan masih berada di bawah ufuk. Karena posisi hilal belum memenuhi kriteria kemunculan, maka hilal dinyatakan tidak terlihat.
“Tadi untuk bulan Ramadhan ketinggian hilal masih di bawah ufuk. Karena di bawah ufuk maka hilal dinyatakan tidak muncul. Sehingga bulan puasa itu dilakukan esok lusa atau tepatnya pada tanggal 19 Februari 2026 bertepatan dengan hari Kamis,” jelasnya. ***















