BANTENRAYA.COM – Bangunan Gedung Shelter Tsunami di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dibiarkan tidak terawat. Bahkan, bangunannya pun kusam dan tidak terurus.
Camat Labuan, Yayat Hidayat mengatakan, gedung shelter tsunami tidak digunakan. Lantaran tidak terjadi bencana alam.
“Bukan terbengkalai, memang bangunan itu untuk jaga-jaga. Ya memang kosong. Kalau ada kejadian kan kalau dipakai apa, nanti justru berbahaya. Justru harus dibiarkan kosong, karena untuk menampung pengungsi suatu saat terjadi tsunami,” kata Yayat, Kamis (12/2).
BACA JUGA: Fraksi Golkar Pandeglang Sebut Musda Melahirkan Pemimpin Dekat dengan Rakyat
Yayat tidak menampik jika bangunan shelter tsunami kurang perawatan. Diharapkan bangunan tersebut mendapatkan perawatan.
“Kalau kotor iya, tidak terawat, tidak diperhatikan. Kalau kita punya anggaran, kita yang rawat, itu kan aset provinsi. Semoga nanti dirapihkan, di cat gitu,” ujarnya.
Meski tidak dirawat, kata Yayat, bangunan tersebut masih berfungsi sebagai tempat pengungsian bagi masyarakat saat terjadi bencana tsunami.
“Fungsinya masih ada sebagai Shelter untuk menampung pengungsi kalau terjadi bencana,” katanya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemadam Kebakaran Pandeglang, Reza Ahmad Kurniawan, melalui Sekretaris, Nana Mulyana mengatakan, bangunan shelter tsunami tidak digunakan. Sebab, tidak terjadi bencana alam.
“Untuk sementara ini tidak ada aktivitas. Shelter ini tempat penampungan sementara untuk korban tsunami,” katanya.
Menurutnya, tidak adanya perawatan bangunan shelter, karena dinasnya keterbatasan anggaran.
“Secara aset ada di Pandeglang. Mengenai pemeliharaannya untuk saat ini anggarannya belum ada, keterbatasan fiskal. Kalau kami mengusulkan untuk ada perawatan, tapi biaya tidak ada,” imbuhnya. ***



















