BANTENRAYA.COM – Kembang tahu menjadi salah satu makanan tradisional yang kini mulai terkikis keberadaannya, kalah pamor dengan munculnya jajanan kekinian yang makin beragam.
Di Kota Serang ada sebuah kedai kembang tahu yang baru-baru ini eksis dan menjadi buruan para pecinta kuliner jaman dulu, karena merindukan sensasi rasa yang sudah lama tidak ditemui.
Pemilik Kedai Kembang Tahu Eriyanto mengatakan, dalam penyajian kembang tahu ia tetap mempertahankan metode lama dengan memadukan jahe merah dan gula aren.
“Untuk penyajian memang tidak ada perubahan, sama seperti jajanan dulu juga disajikan seperti sekarang,” kata Eri sapaan akrabnya kepada Bantenraya.com, di Lampu Merah Ciceri belakang Transmart Kota Serang, Senin 9 Februari 2026.
Para pembeli kembang tahu mayoritas adalah generasi milenial, pada jam makan siang biasanya antrean memadati kedai tersebut untuk dinikmati secara langsung atau dibawa pulang.
BACA JUGA : Kedai Samasama Kota Serang, Kuliner Hidden Gem Yang Menyediakan Menu Lezat
“Kebanyakan sih dibawa pulang, yang beli ibu-ibu dan bapak-bapak juga ada juga para pekerja yang beli kesini,” imbuhnya.
Dalam sehari, Eri membawa sebanyak tiga termos besar berisi kembang tahu. Jika sedang ramai, ia kadang tutup lebih awal sekitar pukul 15.00 WIB.
“Saya buka mulai setengah 12, kalau tutup bisa sampai sore dan alhamdulilah selalu habis. Kalau perkiraan bisa sekitar 70 porsi, karena untuk yang dibungkus isinya lebih banyak,” jelas Eri.
Cita rasa yang khas dari kembang tahu yang lembut berpadu dengan hangatnya air jahe, ditambah rasa manis dari gula merah seakan tidak ingin berhenti untuk terus menyantap hidangan ini.
Untuk sensasi rasa segar, pembeli juga bisa memilih varian es namun kuah yang disajikan berasal dari susu kedelai yang sudah manis.
“Harganya Rp10 ribuan saja, namun untuk varian yang paling banyak dibeli ini adalah yang gula aren,” tuturnya.
Eri mengaku, membuat kembang tahu mempunyai kesulitan tersendiri. Ia mempelajari hidangan tersebut dari rekannya yang merupakan etnis Tionghoa.
BACA JUGA : Gedung Matahari Lama Cilegon Bisa Jadi Pusat Kuliner Tanpa Investor dan APBD
“Gampang-gampang susah cara buatnya, karena saya belajar cukup lama dari teman saya dulu orang Tionghoa, sampai bisa lembut dan dipasarkan,” kata Eri.(***)

















