BANTENRAYA.COM – Seorang petani bernama Umbang berusia 50 tahun, warga Kampung Sena, RT 001 RW 005, Desa Mekarsari, Kecamatan Rangkasbitung dan kelima anggota keluarganya hidup serba kekurangan.
Mirisnya, puluhan tahun petani tersebut belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Umbang mengatakan, kehidupannya yang serba kekurangan sudah berlangsung sejak dirinya tinggal di Kecamatan Rangkasbitung.
“Ya, kalau kaya gini mah udah lama, kurang hafal kalau berapa lamanya, saya jalani saja seadanya, pernah ada pihak Pemerintah Desa (Pemdes) kesini. Tapi, cuman survei doang, itu juga udah lama banget sampai sekarang belum ada saja,” kata dia saat ditemui di rumahnya, Selasa 30 Januari 2024.
Baca Juga: 10 Langkah Mencuci Motor Dengan Benar, Tak Perlu ke Jasa Steam
Ia menjelaskan, profesinya menjadi petani tidak dapat membawa keluarganya kepada kehidupan yang layak.
Adapun anggota keluarganya yakni Emah sebagai istri, dan keempat anaknya antara lain, Endang, Endi, Eneng Umayah, dan Siti Paujiah.
“Penghasilan juga tidak menentu, malah banyak tidak dapatnya, saya hidup disini bersama empat anak, dan istri,” ucapnya.
Umbang menuturkan, kondisi rumah juga sangat mengkhawatirkan, Lantaran saat hujan bisa ambruk dan ketika panas terasa sampai ke tubuh.
Baca Juga: Tekan Pengangguran, Kanwil DJP Banten Latih UMKM di Cilegon Agar Bisa Ekspor
“Ya kalau lagi hujan kebocoran, terus kalau misal panas suka menyengat ke tubuh, saya juga sangat kasian sama keluarga saya, tidak bisa memberikan kehidupan yang layak,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, ke empat anaknya sudah bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama.
Namun baru satu keli mendapatkan bantuan pendidikan.
“Baru sekali-kalinya itu dapat bantuan pendidikan, itu juga waktu SD, satu orang anak lagi yang dapatnya, sekarang mah tidak ada lagi, diantara empat anak saya, ada yang putus sekolah, karena terkendala oleh ekonomi,” jelas Umbang.
Baca Juga: Nonton A Shop For Killers Episode 5 dan 6: Jam Tayang, Link Nonton, dan Spoiler
Umbang menambahkan, meskipun hidup dalam keterbatas dirinya tidak pernah mengemis untuk dikasihani oleh tetangga maupun pemerintah setempat.
“Saya belum pernah minta kesiapapun, sama pemerintah pun tidak berharap, soalnya udah sering kesini buat survai. Tapi tidak ada saja sampai sekarang,” tutpnya sambil meneteskan air mata.
Sementara itu, salah satu anak Umbang, Siti mengaku, tidak malu hidup serba kekurangan.
Ia bercita-cita ingin sekolah tinggi dan membantu perekonomian keluarganya.
“Saya masih sekolah SMP, semoga saja bisa sampai perguruan tinggi, sehari-hari ada saja makan mah. Tapi terkadang juga suka tidak makan berjam-jam karena kehabisan beras, beruntungnya suka ada tetangga yang berbaik hati,” tutup sambil menahan air mata.***
















