BANTENRAYA.COM – Dunia maya dihebohkan dengan informasi nikah massal kalangan santri di daerah Bayasari Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Ciamis pada Senin, 23 Januari 2023.
Tak main-main, dalam nikah massal kali ini melibatkan 10 pasang santri berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda 2.
Sebelum melangsungkan nikah massal, 10 pasangan santri ini terlebih dulu menjalani perjodohan di wilayah Ponpes.
Baca Juga: Sampai saat ini pabrik Sosro Pandeglang belum beroperasi, sepi dan hanya ada satpam
Informasi tersebut mencuat setelah sebelumnya tersiar kabar viral melalui TikTok yang memperlihatkan seolah pengurus dari Ponpes Miftahul Huda 2 menjodohkan santrinya dengan cara mengundi atau dikocok.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Mifatahul Huda 2 KH Nonop Hanafi bersuara terkait 10 pasang santrinya yang melangsungkan nikah massal ini.
Menurutnya, acara tersebut sudah menjadi agenda tahunan bagi kalangan santri yang mondok atau menuntut ilmu agama di sana.
Baca Juga: Mau Ketemu Bulan Ramadhan? Coba Baca Doa Ini, Dijamin Dikabulkan Buat Menyambut Bulan Ramadhan
Usut punya usut, nikah massal yang dijadikan agenda tahunan tersebut rupanya sudah berjalan selama lima kali.
“Ini sudah episode kelima. Pertama dua pasang, lalu tiga pasang, enam pasang, delapanbpasang, sekarang 10 pasang,” ujar KH Nonop setelah akad nikah.
Pihaknya juga menambahkan bahwa masing-masing calon sudah berumur matang, rata-rata diatas 25 tahunan.
Baca Juga: Sedang Dilantik Anggota PPS di Kabupaten Serang Pingsan, Langsung Ditandu Keluar Barisan
Pasangan nikah massal ini ternyata terdiri dari mereka yang sudah mengabdi lama di Ponpes Miftahul Huda 2.
Dan semuanya telah menjadi Ustad maupun Ustadzah serta tingkatan kelas yang ditempuh sudah ke jenjang Ma’had Ali.
“Artinya mereka sudah beres melakukan tahapan jenjang pendidikan,” kata Kiai Nonop.
Baca Juga: Masih Ada Kuota 3.000 Lowongan Pekerja Formal dengan Gaji Dua Kali Lipat UMP Banten di Malaysia
Uniknya seperti video yang beredar di media sosial, sebelum melangsungkan akad nikah calon mempelai pria dikawal menggunakan kendaraan yang mirip dengan milik Brimob sampai diborgol.
Hingga mereka dikenakan pakaian rompi orange, kemeja putih dan celana hitam. Lebih lengkap lagi, pasukan bersenjata lengkap siap mengamankan, adapula wartawa gadungan yang berpura-pura meliput acara tersebut dan berusaha mewancarai mempelai pria.
Atribut yang mereka kenakan memang hanya settingan semata, namun atas konsep seperti itu public dibuat tercengan karena melihat calon mempelai prianya bak teroris.
Baca Juga: Pengen Saldo DANA Rp 200 Ribu? Coba Mainkan Aplikasi Penghasil Uang Ini
Dari itu semua, yang terpenting menurut Kyai Nonop adalah bagaimana mereka bisa mensyiarkan ilmu yang selama ini mereka tempuh puluhan tahun di pesantren, karena sejatinya pernikahan di pesatren yang mereka jalani adalah sebuah jembatan untuk tujuan tersebut. * * *




















