BANTENRAYA.COM – Pengendara yang melintasi Tol Tangerang Merak mengaku keberatan terkait rencana kenaikan tarif tol.
Keberatan ini lantaran pelayanan Tol Tangerang Merak dianggap masih belum optimal.
Salah seorang sopir mobil box Indomie Tangerang, Juli Ardian, mengatakan, adanya rencana kenaikan tarif Tol Tangerang Merak bakal menambah beban masyarakat.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Membayangi Selat Sunda, Pelabuhan Merak Terancam Ditutup Kembali
Juli pun mengaku keberatan dengan rencana perubahan tarif tol Tangerang-Merak.
“Dengan rencana kenaikan tarif tol agak kurang setuju. Karena dari fasilitas belum memuaskan,” ujar Juli Ardian, ditemui di rest area Gerbang Tol Serang Timur, Kota Serang, Selasa 27 Desember 2022.
Juli Ardian menuturkan, tarif Tol Tangerang Merak termasuk yang paling mahal.
Tarif Tol Tangerang-Merak sekarang ini dikisaran Rp 32.000 untuk sekali jalan, jika pulang pergi (PP) ongkos yang harus dikeluarkan Rp 64.000.
“Kalau dari saya, kepuasan saya kayaknya Tol Serang Merak, ini termasuk tarif yang paling mahal setahu saya,” tuturnya.
“Sehari bisa dua rit. Saya dari Tangerang ke merak. Kalau dari Tangerang ke Merak untuk tol aja bisa 100 ribu lebih,” ucap dia.
Menurut Juli Ardian, pelayanan tol Tangerang-Merak masih belum optimal, karena masih ada akses jalan Tol Tangerang-Merak yang bergelombang.
Baca Juga: Profil Singkat Yacob Sayuri, Man of The Match di Laga Piala AFF 2022 Brunei vs Indonesia
Kemudian juga jalan berlubang, layar mesin e tol banyak yang mati, dan masih banyak penumpang yang turun di tengah jalan tol.
“Mungkin kurang sesuai dengan pelayanan yang dikasih, karena saya juga sering pulang pergi dari Serang ke Tangerang,” ucapnya.
“Apalagi dengan adanya perbaikan jalan ini. Udah jalannya banyak bolong, kehambat deh pokoknya,” keluhnya.
Baca Juga: Usai Menikah, Kini Sang Suami Selingkuh dengan Ibunya Sendiri, Begini Kronologinya
Juli mengaku, adanya sejumlah persoalan yang terjadi di sepanjang Jalan Tol Tangerang-Merak, berimbas pada target pengantaran barang ke lokasi tujuannya.
“Kita mau ngejar target. Kita kan harus ada ritase dua ritase, sedangkan kalau kita ngejar waktu dari pagi sampai sore kayaknya nggak ke kejar dua ritase, karena terhambat. Ada lagi mobil truk yang over load, yang rusak jalan lagi,” ungkap dia.
Belum lagi, lanjut Juli Ardian, ketika bus sering menurunkan penumpang di tengah jalan tol. Otomatis kendaraan yang di belakangnya mendadak berhenti.
Baca Juga: Lowongan Kerja PPPK 2022 Khusus Lulusan SMK, Segera Siapkan Dokumen Ini
“Kita yang dibelakang juga jadi wanti-wanti. Jadi jalan nggak nyaman. Sedangkan jalan juga terbatas dihalangin sama yang perbaikan jalan itu,” ujarnya.
“Mungkin dari peraturan MMS harus diketatin lagi, untuk truk yang over load. Itu salah satu penyebab jalan rusak,” terangnya.
Ia mengusulkan agar PT. Marga Mandala Sakti (MMS) bersama Patroli Jalan Raya (PJR) rutin melaksanakan penertiban, khususnya menertibkan kendaraan yang melanggar.
Baca Juga: Viral Kasus Menantu Selingkuh dengan Ibu Mertua Ternyata Terjadi di Serang, Digerebek Saat Enak-enak
“Mungkin pihak tol kerjasama dengan PJR menertibkan truk yang over load, dan bus yang masih mengangkut dan menurunkan penumpang di pinggir jalan tol,” tutur Juli Ardian.
Keluhan serupa pun dilontarkan pengguna Jalan Tol Tangerang-Merak lainnya, Muhyi.
Sopir Bus Jala Bakti Trayek Grogol-Serang, Muhyi mengaku keberatan dengan rencana kenaikan tarif Tol Tangerang-Merak.
Baca Juga: Unggahan Seleb TikTok Nirwana Selle Sebelum Meninggal Jadi Sorotan, Sudah Punya Firasat?
“Sebenarnya keberatan kalau naik lagi. Baru habis naik, mau naik lagi. Sekarang 345 sampai ke Grogol,” katanya.
“Sebelumnya kan nggak sampai segitu. Tapi kalau memang jalannya udah bagus, udah lancar boleh-boleh aja. Harus sesuai dengan pelayanan,” kata Muhyi, ditemui di pangkalan bus Jala Bakti, Kemang, Selasa 27 Desember 2022 pagi.
Alasan Muhyi keberatan jika tarif tol Tangerang-Merak dinaikkan lagi, karena pelayanan PT. MMS untuk Jalan Tol Tangerang-Merak masih belum prima.
“Sekarang jalan di Gerbang Tol Cikupa mobil di jam-jam kerja itu nggak pernah nggak macet. Selalu macet. Berarti kan pelayanannya kurang cepat walaupun itu udah pakai mesin,” ungkap dia.
Kata Muhyi, akibat adanya kemacetan yang rutin terjadi berimbas pada ritasi penarikannya.
“Sebenarnya hambatan, aturan kita narik bisa dua PP sekarang se PP aja udah susah. Karena faktor jalan, bukan hanya faktor penumpang aja,” tuturnya.
“Sekarang solar naik, dihajar lagi macet tiap hari. Memang ada pelebaran jalan. Tapi sebenarnya kalau naik-naik sekarang belum waktunya,” ucap dia.
Muhyi menjelaskan, bila tarif tol ada penyesuaian lagi, maka terpaksa tarif ongkosnya pun akan dinaikkan sesuai kenaikan tarif tol.
“Bukan hanya supir saja yang berat, masyarakat juga kalau naik tol pasti dinaikkin lagi ongkosnya,” katanya. ***



















