BANTENRAYA.COM – Pelaksanaan haji 2022 telah digelar, rombongan jemaah haji Indonesia berangsur-angsur tiba di Tanah Suci.
Pelaksanaan haji tahun ini adalah momentum yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam di dunia, khususnya di Indonesia.
Sebab sudah 2 tahun lamanya pelaksanaan haji ditunda akibat pandemi Covid-19.
Baca Juga: Ini Link Nonton Pertandingan Persikabo vs Arema, di Piala Presiden 19 Juni 2022
Tentunya, harapan seluruh jemaah haji ialah pulang dengan mendapatkan predikat haji yang mabrur.
Lalu apa dan bagaimana haji yang mabrur tersebut?
Rasullullah SAW pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkam Aisyah ra, yang berbunyi:
Baca Juga: Kumpulan Ucapan Selamat Hari Ayah Sedunia 19 Juni 2022, Sentuh Hatinya: My Daddy My Hero
“Bertanya Siti Aisyah kepada Nabi: Ya Rasulullah, kami melihat bahwa jihad adalah amal yang paling terbaik. Kenapakah kami tidak boleh ikut berjihad?”
“Nabi menjawab: Bahkan sesungguhnya jihad yang paling baik ialah haji yang mabrur.” (Bukhari dan Muslim)
Dikutip Bantenraya.com dari Bunga Rampai Jilid 2, Zainal Abidin Ahmad menjelaskan bahwa haji merupakan salah satu rukun Islam yang penting.
Mengutip perkataan Syekh Mahmud Syaltut, Zainal Abidin mengatakan bahwa haji dinamakan sebagai rihlah jasmaniyah wa rohaniyah, suatu pariwisata badan lahir beserta rohani sekaligus.
“Dari suatu perjalanan demi satu perjalanan, masing-masing mukmin mendekati Tuhannya, sehingga jarak yang jauh yang membatasinya dari Tuhan karena banyaknya godaan dan rayuan maka setiap tahun dia menempuh jarak-jarak jauh untuk sampai mendekati Tuhan sedekat-dekatnya,” ujar Zainal Abidin Ahmad.
Menurut Zainal Abidin Ahmad bahwa hadis di atas menyebutkan bahwa haji itu adalah jihad yang paling baik dan semulia-mulianya.
“Meskipun jihad adalh amal yang paling tinggi nilainya di dalam Islam, tetapi ibadah haji yang menjadi rukun Islam yang kelima dan terakhir adalah jihad yang paling mulia,” ungkap Zainal Abidin Ahmad.
Kemudian bagaimana mendapatkan predikat haji yang mabrur?
1. Bersih dari godaan nafsu syahwat dengan tidak melakukan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan.
Baca Juga: Kasus Dugaan Penganiayaan Iko Uwais, Polisi Periksa Audy Item pada Senin Besok
2. Bersih dari tingkah laku yang jahat yang menunjukkan budi akhlak yang rendah.
3. Bersih dari nafsu pertengkaran dan perselisihan yang menimbulkan kerenggangan antara hari dengan hati dalam masyarakat muslimin.
Hal di atas sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 197, yang artinya:
Baca Juga: Ini Tanggapan Anies Baswedan Saat Digadang Jadi Capres oleh Partai Nasdem
“Maka siapa yang mengerjakan kewajiban haji di musimnyaz maka janganlah melakukan hubungan kelamin, berbuat kejahatan, dan melakukan pertengkaran.”
“Jika seorang haji membersihkan dirinya dari segala godaan dan gangguan yang meruntuhkan keimanannya dan merusakkan akhlaknya selama mengerjakan haji, pastilah pulangnya nanti ke tanah airnya membawah akhlak yang mulia dan terhormat,” pungkasnya. ***



















