BANTENRAYA.COM – Itikaf menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan saat Ramadhan, Selain tarawih, tadarus dan bersedekah.
Itikaf sendiri merupakan bentuk ibadah menetap atau berdiam diri di masjid dengan berdzikir, bertasbih dan melakukan kegiatan terpuji lainnya serta menghindari perbuatan yang tercela.
Itikaf menjadi ibadah sunah yang bisa dilakukan kapan saja. Namun saat Ramadhan dianjurkan dilakukan 10 hari diakhir puasa Ramadhan, sebagaimana Rasullah SAW melakukan hal tersebut.
Baca Juga: Kultum Ramadhan 2022 dan Ceramah Singkat Tema Perbesar Persamaan, Jangan Perkuat Perbedaan
Dengan itikaf seorang hamba Allah diharapkan bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, meminta ampun dan bentuk mensyukuri segala yang Allah sudah berikan.
Terlebih dilakukan saat 10 hari Ramadhan, dimana semua umat muslim berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan lailatulqadar atau malam yang paling mulia diantara seribu bulan.
Dikutip BantenRaya.Com dari portal islam.nu.or.id, Rais Syuriyah PBNU Dr KH Zakky Mubarak menyampaikan dalam tulisannya jika dalil atau hadist itikaf banyak diriwayatkan para sahabat.
Salah satunya dari Bukhari dan Muslim :
Baca Juga: Google Membuat Game untuk Mengisi Waktu Ramadan, Mari Bermain Bersama!
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Dari Aisyah RA. istri Nabi SAW menuturkan, “Sesungguhnya Nabi SAW. melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan itikaf sepeninggal beliau”. (Hadis Sahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006).
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَسَافَرَ سَنَةً فَلَمْ يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
Dari Ubay bin Kaab r.a. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. beritikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Pernah selama satu tahun beliau tidak beritikaf, lalu pada tahun berikutnya beliau beritikaf selama dua puluh hari”. (Hadis Hasan, riwayat Abu Dawud: 2107, Ibn Majah: 1760, dan Ahmad: 20317).
Sementara itikaf menjadi ibadah sunah diluar puasa yakni sebagaimana diriwayatkan Bukhari Muslim.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ فَاسْتَأْذَنَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَضْرِبَ خِبَاءً فَأَذِنَتْ لَهَا فَضَرَبَتْ خِبَاءً فَلَمَّا رَأَتْهُ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ ضَرَبَتْ خِبَاءً آخَرَ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى الْأَخْبِيَةَ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَالْبِرَّ تُرَوْنَ بِهِنَّ فَتَرَكَ الِاعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ
Dari Aisyah RA. berkata, “Nabi SAW biasa beritikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, kemudian aku memasang tirai untuk beliau, lalu beliau mengerjakan shalat Subuh, kemudian beliau masuk ke dalamnya. Hafsah kemudian meminta izin pada Aisyah untuk memasang tirai, lalu Aisyah mengizinkannya, maka Hafsah pun memasang tirai. Waktu Zainab binti Jahsyi melihatnya, ia pun memasang tirai juga. Pagi harinya Nabi SAW. menjumpai banyak tirai dipasang, lalu beliau bertanya:
“Apakah memasang tirai-tirai itu kamu pandang sebagai suatu kebaikan?”. Maka beliau meninggalkan itikaf pada bulan itu (Ramadhan itu). Kemudian beliau beritikaf pada sepuluh hari dari bulan Syawal (sebagai gantinya)”. (Hadis Sahih, riwayat al-Bukhari: 1892 dan Muslim: 2007).
Baca Juga: 12 Link Twibbon Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 2022 atau 1443 Hijriah, Download Secara Gratis
Rukun dan Syarat ’tikaf terdiri dari:
1. Niat itikaf
Baik itikaf sunnah atau itikaf nazar.
2. Berdiam diri dalam masjid
Sebentar atau lama sesuai dengan keinginan orang yang beritikaf atau mutakif. Itikaf di masjid bisa dilakukan pada malam hari atau pun pada siang hari.
Syarat itikaf terdiri dari:
1. Muslim
2. Berakal
3. Suci dari hadas besar.
Yang Membatalkan Itikaf di masjid menjadi batal disebabkan oleh:
1. Bercampur dengan istri, berdasarkan firman Allah SWT:
وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقۡرَبُوهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ
Baca Juga: 5 Atlet Indonesia Jadi Mualaf, Bahagia Menjalani Indahnya Puasa Ramadhan Bersama Keluarga
“…Dan janganlah kamu campuri mereka (istrimu) itu, sedang kamu beritikaf di masjid, itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa”. (QS.Al-Baqarah, 2:187).
2. Keluar dari masjid tanpa uzur atau halangan yang dibolehkan syariat.
Tetapi bila keluar dari masjid karena ada uzur, misalnya buang hajat atau buang air kecil dan yang serupa dengan itu, tidak membatalkan itikaf.
Diperbolehkan keluar dari masjid, karena mengantarkan keluarga ke rumah, atau untuk mengambil makanan di luar masjid, bila tidak ada yang mengantarkannya. Aisyah RA. meriwayatkan:
Baca Juga: 5 Atlet Indonesia Jadi Mualaf, Bahagia Menjalani Indahnya Puasa Ramadhan Bersama Keluarga
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
Dari Aisyah RA. menuturkan, “Nabi SAW apabila beritikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku sisir rambutnya, dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk keperluan hajat manusia (buang air besar atau buang air kecil)”. (Hadis Sahih, riwayat al-Bukhari: 1889 dan Muslim: 445).***




















