BANTENRAYA.COM – Kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Serang tembus 65 kasus.
Kasus itu mengalami peningkatan bila dibanding tahun lalu yang mencatat 60 kasus hingga Desember 2024.
Peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini diungkapkan Kepala DP3AKB Kota Serang Anthon Gunawan usai acara pemberian santunan kepada penyintas kekerasan pada perempuan dan anak yang digelar di Pokel Garden Resto, Kota Serang, Kamis 27 November 2025.
BACA JUGA: Pecat Pemilik Tumbler Anita Dewi, Daidan Utama Pialang Asurasi Kena Semprot Netizen
Acara penyerahan bantuan santunan dilakukan oleh Ketua TP PKK Kota Serang Arfina Rustandi.
Kepala DP3AKB Kota Serang Anthon Gunawan mengatakan, jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga Oktober 2025 tercatat 65 kasus.
“Tahun kemarin 60 sampai Desember itu 60 kasus. Sekarang 65 kasus, kalau sama konseling itu 123 kasus,” ujar Anthon, kepada Banten Raya.
Menurut dia, peningkatan kasus kekerasan perempuan dan anak itu salah satunya, karena korban sudah berani speak up.
“Nah, kalau masalah angka, berbicara angka, kita bersyukur ya, Bu ya. Dengan banyaknya angka itu artinya semakin banyak yang berani melapor. Jadi kalau ada meningkat di satu sisi kita bersyukur. Berarti ada keberanian dari masyarakat,” ucap dia.
Anthon menjelaskan, dari 65 kasus itu didominasi kekerasan fisik dan seksual terhadap anak.
“Yang paling banyak masih kekerasan kepada anak,” jelasnya.
Ia menyebutkan, dari enam kecamatan, Kecamatan Serang yang paling banyak melaporkan kasus kekerasan.
“Kecamatan yang banyak tahun ini adalah Kecamatan Serang. Karena mungkin dari sisi jumlah penduduk pun paling banyak Kecamatan Serang ini,” sebut Anthon.
Anthon mengaku pihaknya terus berupaya melakukan sosialisasi ke lembaga pendidikan baik formal maupun pondok pesantren. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Karena terjadinya banyak kepada anak-anak, tentunya kami menyasar sekolah semua sekolah baik negeri, swasta dan pondok pesantren kita telah masukin. Jadi kurang lebih tahun ini kita sudah masuk di 60-an SMP Negeri swasta dan pesantren itu, karena bully itu kan macam-macam verbal, terus fisik. Jadi itu yang kita berikan materi kepada sekolah itu,” terang dia.
Selain itu, pihaknya juga mengundang masyarakat melalui PTBM yang ada di Kota Serang, karena kasus bullying bisa terjadi karena pengasuhan anak yang keliru.
“Karena kasus bullying ternyata kebanyakan diakibatkan oleh faktor keluarga. Apa cara pengasuhan yang salah, yang keliru, atau terlalu keras? Artinya bahwa keluarga ini harus dikuatkan. Karena memang faktor-faktor itu yang berpengaruh timbulnya kekerasan,” tandasnya.
Ketua TP PKK Kota Serang Arfina Rustandi mengimbau kepada masyarakat korban kekerasan untuk berani speak up, agar angka kekerasan bisa minimalisir.
“Saya memberitahu ke mereka agar mereka mau speak up, mereka bicara ke orang terdekat, ke ke kita, saya, ada di T3 HP, biar mereka berani untuk mengutarakan siapa pelakunya atau apa ya kejadiannya seperti apa,” ujar Arfina, kepada Banten Raya. ***

















