BANTENRAYA.COM – PT Chandra Asri Pacific yang menjadi bagian dari Grup Barito Pacific memerkuat komitmennya dalam mendukung energy bersih untuk mewujudkan kota hijau.
Chandra Asri mendukung sektor energi terbarukan, termasuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS.
Manajer Ekonomi Sirkular dan Kemitraan Chandra Asri Group Nicko Setyabudi menjelaskan, Chandra Asri memiliki fokus utama bisnis di sektor kimia, infrastruktur dan energi.
Dalam konteks energi baru terbarukan atau EBT, pihaknya berkomitmen melalui anak usaha Krakatau Chandra Energy atau PT KCE di Kota Cilegon.
Baca Juga: Antusias Warga Tinggi, Bojonegara Run 5K Diharapkan Jadi Agend Tahunan
“Di sana kami ingin menghadirkan listrik yg lebih hijau memakai solar panel,” kata Nicko dalam talkshow Green Collabs yang diadakan Katadata Green di Jakarta pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Kata Nicko, EBT seperti panel surya akan menjadi tren di masa depan untuk pengadaan listrik yang lebih ramah lingkungan, mengingat selama ini masih ada ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
“Listrik hijau ini akan jadi tren ke depan,” ucap Nicko.
Adapun, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi berbahan bakar fosil menjadikan sektor transportasi sebagai salah satu penyumbang utama polusi udara di kawasan perkotaan, sehingga topik energi bersih menjadi bagian dari pembahasan dalam sesi bertajuk Mewujudkan Kota Hijau Melalui Transportasi Berkelanjutan dan Inklusif.
Baca Juga: Polsek Cilegon Ungkap Status Dua Orang yang Tewas Tertimpa Bangunan di Lingkungan Priuk
Direktur Operasional dan Keamanan PT Transjakarta Daud Joseph yang juga hadir sebagai pembicara mengatakan, Transjakarta berupaya mencapai target menyediakan sebanyak 300 bus listrik.
Menurut Daud, pihaknya ingin semua layanan angkutan umum yang disediakan tidak lagi mengeluarkan emisi, sehingga ia menargetkan semua bus yang beroperasi per 2030 adalah kendaraan listrik.
“Bus-bus kami semua akan beralih ke bus listrik. Sekarang, kami mengoperasikan 570 bus listrik dan akan bertambah terus 1.000 unit setiap tahun menjadi 10.000 unit pada 2030,” papar Daud.
Namun demikian, tantangan inklusivitas di dalam sistem transportasi di tanah air masih besar, berdasarkan data Rilis Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) pada Maret 2024 menyebutkan, warga Jabodetabek menempuh jarak rata-rata 10,5 km setiap hari untuk beraktivitas di Jakarta.
Baca Juga: Penertiban Gepeng, Dinsos dan Satpol PP Kota Cilegon Saling Lempar Kewenangan
Menjawab tantangan semacam itu, Gonggomtua E. Sitanggang selaku Southeast Asia Director ITDP berpendapat, penggunaan energi bersih merupakan kunci menuju transportasi ramah lingkungan dan inklusif. Penerapannya, imbuh dia, melalui penggunaan kendaraan listrik.
“Kalau ingin kota kita lebih compact maka yang dibutuhkan adalah sisa kendaraan (selain kendaraan umum) yang ada adalah kendaraan listrik,” tutup Gongomtua.
Dampak dari sistem transportasi yang tidak berkelanjutan ini langsung terasa dalam kehidupan masyarakat perkotaan baik dari segi kesehatan, kualitas lingkungan, hingga produktivitas.***




















