BANTENRAYA.COM – RSUD Kabupaten Tangerang bekerja sama dengan Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) serta Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Ketiga instansi kesehatan tersebut menyelenggarakan pelatihan mitigasi bencana di Aula RSUD Kabupaten Tangerang.
Dilansir dari Tangerangkab.go.id, pelatihan ini diikuti oleh 44 tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas di wilayah Kabupaten Tangerang.
Baca Juga: Senam Massal HUT Golkar ke 60 di Kota Cilegon, Dukungan untuk Robinsar – Fajar Menggema
Pembekalan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan agar mampu merespons secara cepat dan efektif terhadap perubahan iklim yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Wakil Direktur RSUD Kabupaten Tangerang, Mohamad Rifki, menekankan pentingnya kegiatan ini untuk memperluas wawasan terkait bencana hidrometeorologi.
Ia juga menyoroti pentingnya pengetahuan tentang langkah-langkah darurat, pengurangan risiko, dan penanganan pascabencana.
Baca Juga: Serentak, Polres Serang dan Polsek Tebar 200 Ribu Benih Ikan, 3 Bulan Sudah Bisa Dipanen
“Kami mengucapkan terima kasih kepada FKUI dan RSCM atas inisiasi kegiatan ini. Pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan kesiapan rumah sakit dan puskesmas dalam menghadapi ancaman bencana, terutama banjir yang menjadi ancaman serius di Kabupaten Tangerang,” ujarnya.
Rifki menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program rutin yang bertujuan memperkuat koordinasi dan respons cepat dalam keadaan darurat, sekaligus mendukung Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di rumah sakit dan puskesmas.
Sementara itu, dr. Andi Ade dari Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi ilmu pengetahuan dalam manajemen bencana.
Baca Juga: Polda Banten Ungkap Pelayanan Publik di Banten Rentan jadi Ladang Pungli
Ia mengingatkan bahwa bencana sering datang tanpa diduga, sehingga membutuhkan respons yang cepat dan terorganisasi.
“Kami berharap materi yang disampaikan dapat diterapkan oleh peserta untuk menangani bencana secara terstruktur, sehingga kerugian yang ditimbulkan dapat diminimalkan,” jelasnya.***















