BANTEN RAYA.COM – Pemerintah kota (Pemkot) Cilegon melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon melakukan jemput bola kejar target nasional cegah polio 95 persen.
Walikota Cilegon Helldy Agustian mengatakan, target imunisasi polio tersebut diutamakan untuk anak-anak usia sekolah dasar (SD), berupaya kejar target nasional cegah polio 95 persen.
“Bahwa ini targetnya untuk anak-anak usia SD terutama ya, sudah di planning nanti akan seragamisasi tanggal 23 juli supaya ini bisa terealisasi. Kami berupaya memenuhi target nasional 95 persen,” kata Helldy kepada Banten Raya, Rabu (17/7).
Helldy menyampaikan, imunisasi itu bukan hanya untuk polio, tapi imunisasi secara keseluruhan yang ada di Kota Cilegon.
“Sebagai bukti bahwa kami menerima arahan dari Kemenkes secara langsung. Oleh karena itu, nanti tinggal kita realisasi,” sambungnya.
Kata dia, untuk metode imunisasi tersebut nanti akan di diskusikan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Cilegon Ratih Purnamasari mengungkapkan, sasaran utama untuk imunisasi usia 0-7 tahun.
“Pelaksanaan nanti ke sekolah, sasarannya usia 0-7 tahun, jadi yang belum ulangtahun ke 8 aja ya. Lokasinya nanti di tk, paud, SD, posyandu,” ungkapnya.
Menurutnya program tersebut sebagai pencegahan penyakit polio di Kota Cilegon, karena di beberapa daerah sudah terdapat kejadian luar biasa.
“Ini sebagai upaya memutus mata rantai penyakit polio di Kota Cilegon, bahkan WHO juga menyatakan Indonesia termasuk ke dalam resiko tinggi terhadap polio. Kita perlu lakukan pencegahan,” ucapnya.
Untuk launching program penjemputan bola mencegah Polio kata Ratih di selenggarakan di SD Kubang Sepat 1.
Baca Juga: Pj Walikota Yedi Rahmat dan 43 Pejabat Kota Serang Jadi Orang Tua Asuh Anak Stunting
“Imunisasi itu ada banyak, di Kota Cilegon itu ada mulanya 11 imunisasi yang diberikan, lalu menjadi 14 imunisasi. Tapi di Kota Cilegon dan beberapa daerah itu ada 1 yang tidak diberikan, jadi 13 macam imunisasi. Kalau yang sekarang khusus polio,“ ucapnya.
Mengenai kasus polio yang ada di Kota Cilegon, Ratih menyebutkan tidak ada kasus tersebut, namun pernah terjadi suspek.
“Alhamdulillah tidak ada, cuma waktu itu ada suspek, langsung ditindak lanjuti, kalo suspek itu harus turun juga dari provinsi terus di ambil sampel juga,” katanya.
Ratih menjelaskan, yang tidak sekolah akan didatangi di rumahnya, maka menurutnya perlu adanya kolaborasi dari kecamatan, keluharan, kader, untuk membantu program tersebut.
“Berjalan sampai agustus ya. Dan yang sudah imunisasi itu tetep ditetes lagi, dimulai dari awal. ini yang tetes ya bukan suntikan. Program ini tanpa mengenal status imunisasi, yang sudah atau belum akan tetap dapat imunisasinya,” jelasnya.(***)

















