BANTENRAYA.COM – Provinsi Banten berpotensi menjadi daerah industri maggot. Potensi itu ada karena saat ini juga telat ada peternak-peternak maggot di wilayah Provinsi Banten.
Danrem 064/ Maulana Yusuf Kolonel Inf Fierman Sjafirial Agustus mengatakan, sejak diangkat sebagai danrem dia mencoba memetakan masalah yang ada di Provinsi Banten.
Dia kemudian menemukan salah satu masalah yang dihadapi adalah masalah sampah organik.
Baca Juga: Sampaikan Pledoi Kasus Perburuan Badak Jawa, Sunendi Minta ke Hakim Divonis Ringan
Untuk mengentaskan masalah sampah organik ini, Fierman memiliki ide dengan memanfaatkan maggot sebagai “mesin” yang menyelesaikan masalah sampah organik.
Apalagi, saat ini telah ada peternak-peternak maggot di wilayah Provinsi Banten.
“Mimpi saya Banten akan jadi industri maggot,” kata Fierman saat Pengukuhan dan Rapat Kerja I Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten Masa Khidmat 2024-2029 dengan tema “Pesantren Bangkit Indonesia Maju” di gedung FKIP Untirta Ciwaru, Kota Serang, Banten, Senin, 20 Mei 2024.
Baca Juga: Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Helldy Minta ASN Terus Melahirkan Inovasi
Maggot adalah larva yang efektif dalam mengurai materi organik seperti bangkai hewan dan sisa-sisa tumbuhan dan sisa makanan.
Maggot akan melahap setiap sampah organik lalu kemudian menjadikannya kompos kering tak berbau.
Tubuh maggot sendiri bisa dijadikan sebagai pakan ternak, baik ayam, bebek, lele, hingga burung.
Baca Juga: Penuhi Administrasi Tera Ulang, Helldy Beri Penghargaan 5 Perusahaan Ini
Fierman mengatakan, saat ini pihaknya masih mendata jumlah peternak maggot. Dia ingin peternak-peternak maggot yang kecil itu disatukan sehingga hasilnya akan menjadi besar.
Fierman pun mengajak pondok pesantren di Provinsi Banten mengatasi masalah sampah organik dengan memanfaatkan maggot. Ia mengatakan, sampah yang diselesaikan dengan maggot mempunyai potensi ekonomi.
Sebab kulit dan minyak maggot bisa dijual bahkan bisa diekspor. Maggot sendiri bisa dijual ke peternak karena memiliki protein yang tinggi.
Baca Juga: Baru Tercapai 11 Ribu, Target SPM TBC Kabupaten Pandeglang Belum Penuhi Target
Dengan mengembangkan maggot, maka pondok pesantren tidak hanya menyelesaikan masalah melainkan juga bisa menciptakan income baru.
“Korem memiliki satu gerakan yang mudah-mudahan bisa didukung untuk mengurangi sampah basah. Sampah basah dengan peternakan maggot bisa jadi sampah kering,” ujarnya.
Namun Fierman bermimpi pengelolaan sampah organik ini menjadi gerakan masyarakat. Sebab dengan cara itu maka masalah sampah organik akan bisa diselesaikan.
Baca Juga: Progres Pembangunan Capai 90 Persen, Serah Terima Pasar Baros ke Pedagang Ditargetkan Agustus
Untuk mewujudkan mimpi itu, Fierman mengaku sudah berdiskusi dengan dinas lingkungan hidup kabupaten kota. Bahkan dia berdiskusi dengan Bank BJB dan dunia industri.
Ketua FSPP Provinsi Banten KH. Sulaiman Effendi mengaku tertarik dengan ide pengelolaan sampah organik dengan memanfaatkan maggot seperti yang disampaikan Danrem 064/ Maulana Yusuf Kolonel Inf Fierman Sjafirial Agustus.
Dirinya mengatakan, selama ini pondok pesantren memang masih belum bisa menyelesaikan masalah sampah, terutama sampah organik, di lingkungan pesantren.
“Bahkan ada pesantren yang nyewa lahan cuma buat buang sampah,” katanya.
Ke depan bila maggot digunakan untuk menyelesaikan masalah sampah maka masalah sampah organik di pesantren akan selesai. Meskipun dia sadar tidak mudah untuk bisa mewujudkannya. ***
















