BANTENRAYA.COM – Ada banyak upaya yang dilakukan oleh orang tua murid maupun wali murid di Provinsi Banten untuk mengakali Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB.
Salah satunya adalah dengan melakukan pindah alamat bahkan pindah tempat tinggal yang dekat dengan sekolah.
Monlez Azwari, Ketua Panitia SPMB SMAN 2 Kota Serang, menuturkan, ada banyak orang tua murid yang memutuskan pindah rumah yang berdekatan dengan SMA Negeri 2 Kota Serang.
Mereka tinggal di kompleks maupun kavling yang dekat dengan SMA Negeri 2 Kota Serang yang jaraknya hanya belasan meter.
Mereka berharap, dengan cara seperti itu anak mereka akan bisa langsung diterima di sekolah negeri favorit di Kota Serang tersebut.
Baca Juga: Banyak Pedagang Nunggak Sewa Kios Pasar Kranggot, Disperindag Kota Cilegon Minta Bantuan Kejaksaan
“Banyak yang pindah rumah ke belakang sekolah,” kata Monlez.
Sayangnya, aturan penerimaan murid baru menggunakan SPMB yang mulai diterapkan tahun 2025 ini berbeda dengan sistem terdahulu yang dinamakan Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB.
Saat PPDB, murid yang paling dekat rumahnya dengan sekolah memang akan otomatis memiliki peluang yang sangat besar diterima di sekolah tersebut meskipun dari sisi nilai raport biasa saja atau bahkan buruk.
Berbeda dengan PPDB, pada SPMB 2025 ini jarak rumah dengan sekolah hanya satu dari tiga indikator penilaian siswa bisa diterima di sekolah negeri dengan menggunakan jalur domisili.
Selain jarak rumah yang masuk ke dalam satu wilayah kecamatan, yang akan menentukan selanjutnya adalah nilai rapor selama siswa di SMP.
Dengan demikian, maka siswa yang masih dalam satu kecamatan akan bersaing dengan membandingkan nilai dengan siswa lain.
“Jadi yang kemarin pindah pada kena prank,” kata Monlez.
Khusus untuk jalur prestasi non akademik, SMA Negeri 2 Kota Serang juga memperketat dengan membuat aturan turunan dari juknis SPMB tahun 2025 yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.
Baca Juga: Staf Media Presiden Prabowo Jadi Korban Love Scamming
Salah satunya dengan melakukan serangkaian tes untuk menguji keaslian prestasi non akademik. Sebab di zaman yang sudah sangat modern ini, mencetak sebuah sertifikat adalah hal yang sangat mudah.
“Sertifikat kan tinggal print,” katanya.
Selain harus mampu menunjukkan foto ketika pertandingan atau saat pemberian medali, siswa yang ikut dalam jalur prestasi non akademik juga akan dites ulang.
Misalnya untuk atlet akan diminta untuk lari guna mengetahui ketahanan tubuh mereka.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Go Global, Madu Premium BeeMa Honey Diminati Pasar Internasional
Bila benar atlet maka siswa tersebut akan berhasil melewati serangkaian tes tersebut. Namun bila bukan atlet maka biasanya mereka akan menyerah dalam tes uji ketahanan tubuh tersebut.
Begitu juga dengan siswa yang memiliki prestasi tahfidz atau hafal Al Quran akan dites oleh guru yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Sehingga siswa tidak cukup hanya menyodorkan sertifikat prestasi apalagi yang keasliannya diragukan.
“Untuk prestasi non akademik khusus tahfidz dan seni akan langsung dites,” katanya.
Begitu juga dengan siswa yang mengaku pernah menjadi Ketua OSIS atau ketua pramuka, akan dites menghasilkan karya tulis hingga tes pidato atau sambutan.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Go Global, Madu Premium BeeMa Honey Diminati Pasar Internasional
Dengan cara seperti ini, siswa yang masuk melalui jalur prestasi non akademik akan selalu berada di bawah kuota karena banyak yang gugur saat menjalani tes.
Kepala SMA Negeri 2 Kota Serang Mala Leviana mengatakan, sejauh ini proses SPMB 2025 di SMA Negeri 2 Kota Serang berjalan lancar karena tidak ada interaksi antara pendaftar dengan guru.
Pasalnya, semua dilakukan secara online.
Dia mengungkapkan, kuota siswa baru di SMA Negeri 2 Kota Serang berjumlah 432 orang yang terbagi ke dalam 12 rombel 32 siswa. Namun dari jumlah kuota itu ada empat kuota untuk siswa Papua yang ikut dalam program adem.
Siswa adem dari Papua merujuk pada siswa-siswi asal Papua yang mengikuti Program Afirmasi Pendidikan Menengah atau ADEM.
Baca Juga: Belum ada Subsidi dari Pemerintah, Polytron Beri Diskon Motor Listrik Rp7 Juta
Program ini memberikan kesempatan bagi siswa Papua untuk belajar di sekolah-sekolah di luar Papua, khususnya di pulau Jawa guna meningkatkan kualitas pendidikan mereka.***











