BANTENRAYA.COM – tanggal 17 Agustus 1945 Soekanro-Hatta membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia atas penjajahan.
Pasca kemerdekaan situasi sosial dan politik masih kacau termasuk di Banten, ditambah dengan upaya Belanda kembali menguasai wilayah Indonesia.
Belanda melakukan agresi militer belanda pertama yang berlangsung sejak 21 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947 dimpimpin oleh Letnan Gubernur Jenderal Johannes van Mook.
Pasca agresi militer belanda pertama situasi keamanan di Banten tak menentu dan ada sejumlah tokoh pahlawan yang muncul salah satunya M Yusuf Martadilaga.
Baca Juga: Cara Mengirim Foto di WhatsApp Agar Tidak Pecah, Ternyata Sangat Mudah!
Nama dan sejarah M Yusuf Martadilaga patut diketahui karena M Yusuf Martadilaga adalah kepala keposian pertama keresidenan Banten.
Setiap menjelang hari kemerdekaan RI 17 Agutus, pusara M Yusuf Martadilaga di Kabupaten Pandeglang selalu ramai oleh peziarah.
Pasca agresi militer Belanda pertama, Jenderal Soedirman memberikan mandat pada akhir bulan Juli 1947 kepada Sutan Akbar untuk menyusun kembali kekuatan di Jawa Barat.
Atas dasar mandat itu di Jawa Barat terbentuk Divisi Bambu Runcing (BR) dipimpin Sutan Akbar. Kesatuan ini bukan bagian dari kesatuan tentara reguler.
Keberadaan Laskar BR merupakanperwujudan sikap perjuangan tanpa kompromi beberapa pejuang di Jawa Barat yang menuntut tidak perlu diberikannya konsesi apapun kepada Belanda dan agar terus melawan Belanda.
Baca Juga: Kenali Sebelum Terjadi! Berikut 5 Tanda WhatsApp Anda Kena Hack dan Upaya Antisipasinya
Robert Bridson Crib dalam bukunya berjudul Gejolak Revolusi di Jakarta, 1945-1949: Perjuangan Antara Otonomi dan Hegemoni yang dikutip oleh Departemen Sejarah – Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia menyebutkan bahwa Sutan Akbar adalah sebutan karena nama aslinya Bahar Rezak, seorang mahasiswa kedokteran, pemimpin Laskar Rakyat Djakarta Raya (LRDR) yang dibentuk di Salemba tanggal 22 November 1945.
Dalam penelitian yang sama, pasca ageresi Belanda pertam dilakukan Persetujuan Renville antara Belanda dan Indonesia. Kala itu Kesatuan Siliwangi hijrah ke Yogyakarta, laskar-laskar di Jawa Barat tidak ikut serta, termasuk LBR dan memilih berjuangan dengan cara sendiri-sendiri.
Agresi militer kedua Belanda pecah dan menyerang Yogyakarta. Kesatuan Siliwiangi kembali ke Jawa Barat dengan cara long march melewati medan yang berat.
Sebuah rombongan kecil yang dipimpin Khaerul Saleh juga kembali ke Jawa Barat melalui rute yang dilalui oleh sebagian besar pasukan Siliwangi.
Baca Juga: Contoh Sambutan Singkat Hari Pramuka 2022, Cocok Dibaca Saat Upacara HUT Pramuka
Rombongan beranggota 20 orang pengikut Tan Malaka dan anggota LRJR (Laskar Rakyat Jakarta Raya) yang lama. Diceritakan dalam penelitian ini bahwa Tan Malaka memilih ke Jawa Timur yang menurutnya lebih aman. Khairul Saleh kemudian memimpin pasukan BR di Jawa Barat.
Konflik antara Kesatuan Siliwangi dan lascar di Jawa Barat sering meletup namun akhirnya kekuatan militer non militer ini bisa bersatu dengan nama Staf Gabungan Gerilya Jakarta Timur yang merupakan gabungan antara BR, SP88, dan Kesatuan Siliwangi di bawah pimpinan Mayor Sambas Atmadinata. Mereka bersama-sama melakukan peranggerilya melawan Belanda.
Namun perpecahan antara Kesatuan Siliwangi dengan laskar non militer kembali terjadi usai adanya persetujuan Rum – van Royen yang isinya bahwa untuk menyelesaikankonflik antara kedua negara ditempuh jalan perundingan.
Khairul Saleh dan BR menentang perjanjian dan memilih tetap melanjutkan penyerangan kepada Belanda.
Sejak itu antara BR dan kesatuan Siliwangisering terjadi bentrokan bersenjata, banyak anggota BR yang terbunuh.
Penelitian ini mengutip Koran Merdeka, 11 Oktober 1949 yang enyebutkan Kesatuan Siliwangi mendesak kedudukan BR, mereka terusir darimarkasnya, menyingkir ke daerah Cibinong, Bogor Utara.
Baca Juga: Handball Kontroversial Antarkan Persib Raih Kemenangan Perdana di Liga 1
Pada tanggal 28 September 1949 mereka mengadakan pertemuan rahasia di Jonggol, Bogor Utara. Sebagian besar yang hadir menginginkan agar BR mengkonsolidasikan kekuatannya di Banten Selatan.
Dipilih daerah tersebut karena menurut mereka BR akan mendapat dukungan dari rakyat setempat. Hanya sedikit anggota yang menentang rencana itu,antara lain Wahidin Nasution.
Tentara Rakyat di Banten Selatan
Situasi di Banten Selatan setelah gencatan senjata, berbedadengan situasi sebelumnya. Setelah gencatan senjata dilaksanakan mulaimalam tanggal 10/11 Agustus 1949, Pemerintah Daerah Banten mengerahkan masyarakat untuk bergotong royong memperbaikiberbagai sarana yang rusak akibat perang.
Mereka memperbaiki jalan-jalan, jembatan-jembatan, kantor-kantor pemerintah daerah, mesjid-mesjid, sekolah-sekolah, dan saluran-saluran irigasi. Polisi dan pamong praja bertugas menjaga keamanan menggantikan TNI yang telah diasramakan.
Minggu pertama bulan Oktober 1949, Laskar BR sekitar 400 orang dipimpin langsung oleh Khaerul Saleh bergerak dari Bogor Utara menuju Banten Selatan. Dalam rombongan tersebut terdapat Syamsuddin Chan, Wim Mangelep, Sidik Samsi, dan Camat Nata.
Pimpinan BR Bogor, Muhidin Nasution, juga menuju Banten Selatan bergabung dengan mereka karena di daerahnya ia dicurigai TNI dan masyarakat.
Mereka bergerak lewat Lebak Selatan, menghindaripasukan Belanda dan TNI, menuju Cibaliung Banten Selatan, daerah yang tidak terlalu ketat dijaga oleh TNI. Dalam perjalanan terjadi kontak senjata dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII )pimpinan Kartosuwiryo dan kesatuan-kesatuan khusus bentukan Belanda yang menjaga perkebunan.
M Yusuf Martadilaga Terbunuh
Dalam perjalanan ke Banten Selatan mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan. Mereka dengan mudah menguasai Malingping di Lebak Selatan kemudian terus ke baratmenuju Cibaliung.
Mereka juga dengan mudah menguasai kota keciltersebut karena TNI tengah berkumpul kembali di bagian utara Keresidenan Banten. Laskar BR melakukan aksinya di daerah Cibaliung. Aksi mereka kejam, sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam,melakukan pembunuhan terhadap pihak-pihak yang menjadi lawannya.
Ketika berada di Purwakarta, musuh mereka adalah tentara Belanda, tetapi setelah berada di Banten, musuh mereka selain Belanda adalah pemerintah RI, termasuk aparat keamanannya.
Masyarakat gelisah karena perbuatan mereka, banyak korban berjatuhan, baik dari kalangan sipil, polisi, militer, maupun rakyat.
Korban tersebut antara lain Wakil Residen Banten Ahmad Fathoni, Kepala Kepolisian Keresidenan Banten Komisaris Polisi Yusuf Martadilaga, Letnan Dua Mukhtar, dan Lurah Halimi dari Cibaliung. Kecuali yang disebutkan terakhir, merekabertiga setelah ditawan satu malam, dibunuh pada hari Minggu malam Senin tanggal 9 Oktober 1949 di daerah Cikeusik.
Baca Juga: Apple Cheeks yang Lagi Trending Itu Apa? Simak Tips untuk Dapatkan Senyum Apple Cheeks di Sini
Jenazah mereka dikubur dalam satu lubang di pinggir sungai kecil dekat Desa Dahu,Kecamatan dan Kawedanaan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang
Beberapa hari kemudian, ketiga mayat tersebutdapat ditemukan. Jenazah Yusuf Martadilaga kemudian dimakamkan dimakam keluarga di Kampung Ciherang, kota Pandeglang.
Wakil Residen Ahmad Fathoni dimakamkan di Serang, dan Letnan Dua Mukhtar dibawa ke Yogyakarta. Pada waktu yangbersamaan, pasukan BR lainnya membunuh Letnan Suwarno beserta 27 orang anggotanya di Kampung Sawah, Cibaliung. ***



















