BANTENRAYA.COM – Mengenai golongan darah, tentunya kamu sudah tidak asing dengan A, B, O, dan AB serta Rhesus positif atau negatif. Tapi ternyata, tidak berhenti pada empat golongan itu saja.
Para Ilmuan dari University of Bristol dan NHS Blood & Transplnt (NHBST) baru-baru ini menemukan golongan darah baru yang disebut Er.
Temuan ini dipublikasikan oleh para ilmuan dalam sebuah studi baru di jurnal Blood.
Baca Juga: Inilah Formasi dan Skuad Timnas Qatar di Grup A Piala Dunia 2022, Ada Sosok Mantan Pelatih Barcelona
Er menjadi golongan darah langka ke-44 yang dideskripsikan.
Awal mula penemuan golongan darah Er, berawal dari dua wanita hamil yang anaknya meninggal sebelum lahir, penyebabnya karena ada komplikasi pada darah.
Kemudian, sampel darah kedua wanita ini dikirimkan ke peneliti di Universitas Bristol, hingga akhirnya diketahui muncul golongan darah Er.
Baca Juga: Bahaya Pakai Headset saat Berkendara, Pelajar di Cilegon Tersambar Kereta Api hingga Tewas
Dari hasil ini dinyatakan sang ibu yang memiliki golongan darah Er, kemungkinan tidak cocok dengan darah yang ada dalam bayinya.
Kondisi ini mendorong sistem kekebalannya untuk menghasilkan antibodi terhadap darah si bayi.
Pad akhirnya, antibodi yang melewati plasenta membahayakan anaknya hingga tidak bisa bertahan.
Baca Juga: Catat! Ini Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2023
Sel darah Er terindetifikasi memiliki lima versi antigen Er, di antaranya yaitu Era, Erb, Er3, dan dua yang baru Er4 dan Er5.
Hal ini berdasarkan variasi genetik dalam protein Piezo1, yang ditemukan pada permukaan sel darah merah.
Penemuan Er bermanfaat sebagai pengetahuan baru dalam dunia Kedokteran.
Baca Juga: Preman Pensiun 6 Bakal Tamat di Episode 38? Ini Sinopsis dan Penjelasan dari Aris Nugraha
Salah satu manfaatnya, untuk memberikan pemahaman bagi tenaga medis terkait kematian misterius pasien karena komplikasi darah selama kehamilan dan transfusi.
Dengan begitu, dokter dapat memberikan transfusi darah yang tepat selama operasi atau transfusi darah terjadi.
Menurut para ilmuan dari University of Bristol dan NHS Blood & Transplant (NHSBT), temuan ini dapat membantu menyelamatkan nyawa dalam kasus ketidakcocokan darah yang berbahaya. ***


















