BANTENRAYA.COM – Muharram menurut Hijriyah dan Suro menurut penanggalan Jawa memiliki perbedaan yang cukup mencolok berdasarkan pandangan ulama dan adat masyarakat Jawa.
Meski sama-sama dinilai waktu pergantian penanggalan, namun keduanya memiliki perlakukan berbeda secara adat dan pandangan ulama.
Menurut adat, malam tersebut menjadi malam yang kramat dan sakral, bahkan berbagai pesta masyarakat dilarang dilakukan saat 1 suro.
Baca Juga: Kenapa dalam Masyarakat Jawa Saat Malam Satu Suro Dilarang Keluar Rumah? Banyak Lelembut?
Namun, dalam pandangan ulama, 1 Muharram menjadi malam yang sangat istimewa dan penuh dengan keberkahan.
Dikutip BantenRaya.Com dari berbagai sumber pada Kamis, 28 Juli 2022, masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh adat istiadat dari zaman dahulu.
Termasuk saat ini dalam tradisi 1 suro bagi masyarakat Jawa sangat mempecayai banyak kejadian mistis.
Baca Juga: 10 Pantun Unik Menyambut Tahun Baru Islam 1444 H, Gokil dan Lucu, Bisa Dibagikan di Media Sosial
Hal itu karena Suro sangat kramat dan sakral.
Ada beberapa larangan juga saat 1 Suro, yakni:
1. Tidak Boleh Ada Pesta
Masyarakat Jawa sebagain besar yang memegang tegus adat dan tradisi tidak akan melakukan pesta hajatan selamatan pada 1 Suro, baik itu baik pernikahan maupun khitanan.
Baca Juga: Warga Pejaten Kabupaten Serang Digigit Monyet, Ada yang Dibagian Pantatnya
Hal itu karena kepercayaan jika malam 1 Suro mengadakan hajatan akan membawa kesialan. Bahkan, berujung bencana.
2. Tidak Boleh Pergi Jauh
Ada banyak kesialan dan energi negatif pada saat malam 1 Suro, sehingga dalam tradisi Jawa maka dilarang untuk bepergian.
Baca Juga: Warga Pejaten Kabupaten Serang Digigit Monyet, Ada yang Dibagian Pantatnya
Bahaya dipercayai akan mengintai orang yang bepergian pada malam 1 Suro, serta akan ditimpa keburukan.
3. Tidak Boleh Berkata Kasar atau Tapa Bisu
Perkataan satau sumpah serapah dalam malam satu suro dipercayai akan terkabul, sehingga dalam adat dan tradisinya maka maysarakat dilarang dengan keras berkata kasar dan buruk.
Baca Juga: Airlangga Dampingi Presiden Jokowi Terima Kunjungan Ketua Liga Parlementer Jepang-Indonesia
Hal itu nantinya akan menimpa badan sendiri dan orang lain jika sampai perkataan itu terkabulkan.
4. Tidak Boleh Pindah Rumah
Karena kepercayaan kesialan tadi maka salah satu aktifitas yang tidak diperbolehkan juga pindah rumah.
Baca Juga: Sejarah, Tradisi, dan Kegiatan Malam 1 Suro Bagi Masyarakat Jawa, Simak Uraian Lengkapnya di Sini
Hal itu dinilai akan membawa efek buruk bagi seseorang yang pidah rumah pada 1 Suro.
Berbeda dengan pandangan Islam, jika malam 1 Muharram memiliki banyak keberkahan dan keistimewaan.
Baca Juga: Sejarah, Tradisi, dan Kegiatan Malam 1 Suro Bagi Masyarakat Jawa, Simak Uraian Lengkapnya di Sini
Ada banyak amalan menurut ulama yang bisa dilakukan, yaitu :
1. Memperbanyak salat
2. Puasa Sunah akhir dan awal tahun
3. Memperbayak silaturahim
Baca Juga: Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam Lengkap Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahan Indonesia
4. Berxiarah ke makam ulama
5. Menjenguk orang sakit
6. Memperbanyak dzikir
Jika menilik pada ketentuan amalan pada memperbanyak silaturahim dan berziarah ke makam ulama hal itu tentu saja ada perbedaan soal tidak boleh berpegian menurut adat Jawa dan padangan para ulama.
Baca Juga: Permudah Pembayaran Zakat Kapan dan Dimana Saja, Ini yang Disiapkan Baznas Cilegon
Soal silaturahim, hal itu juga tentunya berbeda karena jika diniatkan pesta adalah bentuk silaturahim maka hal itu tetap diperbolehkan selama bukan untuk maksiat.
Sedangkan soal tidak boleh berkata buruk atau tapa bisu juga menjadi hal yang berbeda.
Sebab, dalam pandangan islam orang harus memperbanyak dzikir dengan begitu maka akan terhindar dari perbuatan buruh dari mulus seseorang.
Baca Juga: 13 Link Twibbon Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H, Desain Terbaru, Islami dan Kekinian
Sementara soal pindah rumah, pada saat 1 Muharram Rasulullah meninggalkan rumah lamanya di Makkah untuk menuju Madinah dan membangun tempat tinggal di sana.
Banyak prinsip yang cukup berbeda. Namun, tentu saja pandangan tersebut tidak harus menjadi perbedaan yang telalu dibesarkan.
Sebab, dibalik sebuah adat tentu sebenarnya da pesan tersirat dan maka folosifis Jawa yang mendalam.
Baca Juga: Rumah Keluarga Sepi, Kekasih Mendiang Brigadir J Minta Perlindungan
Hal itu juga karena para Wali Songo ketika itu tidak mengubah adat tersebut hanya secara substansi dan niat yang berubah. Untuk adat maka tidak diubah.
Sebagaimana juga Rasulullah yang tidak mengubah tradisi arab hanya mengubah tujuan dan subsantinsya dengan ibdah dan bertauhid kapada Allah. ***



















