BANTENRAYA.COM – Sidang Isbat digelar pada Jumat 1 April 2022. Namun, ternyata Muhammadiyah tidak diikutsertakan dalam rapat tersebut.
Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Agung Danarto, alasan Muhammadiyah tidak diundang karena memang sudah menetapkan awal Ramadhan terlebih dahulu.
“Muhammadiyah tidak diundang di sidang isbat wajar saja, karena sejak awal Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadan 1443 H itu,” ujar Agung Danarto di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu 2 April 2022.
Baca Juga: Berakhir Hari Ini, Para Pemeran Twenty Five, Twenty One Bagikan Adegan Favorit Mereka
Agung Danarto juga menjelaskan ada atau tidak adanya Muhammadiyah saat Sidang Isbat tidak akan mengubah keputusan dari pemerintah.
“Muhammadiyah hadir atau tidak hadir tidak terlalu penting, karena apapun keputusan dari isbat itu, toh, Muhammadiyah tetap dengan keputusannya dan pemerintah dengan keputusannya,” kata Agung.
Seperti yang diketahui terdapat dua organisasi Islam yang ada di Indonesia yakni Muhammadiyah, dan Nahdatul Ulama (NU).
Baca Juga: Bocoran Spoiler Ending A Business Proposal Episode 11 : Kang Tae Mu Kecelakaan, Shin Ha Ri Hancur
Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912, oleh Ahmad Dahlan di kota Yogyakarta sebagai gerakan sosial-keagamaan reformis.
Menjadi organisasi yang kini hampir 110 tahun ini, tentunya memiliki peran penting terhadap agama Islam di Indonesia.
Tahun-tahun sebelumnya Muhammadiyah selalu diikutsertakan dalam sidang Isbat, tetapi pada Jumat, 1 April 2022 organisasi tersebut tidak diundang.
Meskipun begitu menurut Agung, Muhammadiyah sama sekali tidak ada masalah meskipun tahun-tahun sebelumnya selalu diundang dalam sidang isbat itu.
“Ya baru kali ini tidak diundang, kami juga tak tahu apa latar belakangnya tidak diundang, tapi kami tidak merasa dinomorduakan,” kata Agung.
Agung mengatakan perbedaan keputusan awal Ramadhan bukan pertama kalinya, sehingga hal tersebut tidak usah diributkan.
Baca Juga: Sebenarnya Sholat Tarawih 20 Rakaat atau 8 Rakaat? Begini Penjelasan Menurut Para Ulama
“Kami sama-sama sudah paham posisi masing-masing, perbedaan soal awal Ramadan ini juga sudah terjadi berulangkali dan masyarakat muslim di Indonesia sudah biasa, jangan dipersoalkan,” kata dia.
PP Muhammadiyah justru berpesan bagi masyarakat muslim di Tanah Air agar tetap menjalankan ibadah Ramadan dengan baik dan menjaga bulan suci, dengan tetap menumbuhkan semangat toleransi.
Meskipun awal Ramadhan antara golongan NU dan Muhammadiyah berbeda, tetapi kita tetap harus saling menghargai pendapat masing-masing.
Karena jika hal tersebut masih dipermasalahkan, khawatir bulan Ramadhan kali ini akan berkurang keberkahannya.***



















