BANTENRAYA.COM – Nilai hutang pinjaman online atau Pinjol warga Banten sepanjang tahun 2024, berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan atau OJK tercatat sebanyak Rp5,04 triliun, atau meningkat dibandingkan dengan bulan Januari 2023 sebesar Rp4,511 triliun.
Meski demikian, jumlah rekening penerima pinjaman yang aktif mengalami penurunan dari 1,71 juta rekening pada Januari 2023 menjadi 1,27 juta rekening di tahun 2024.
Pengajar Program Magister dari Universitas Bina Bangsa Prof. Bambang D. Suseno mengatakan, data terbaru secara nasional dari OJK menunjukkan bahwa pada tahun 2024, total pembiayaan yang disalurkan oleh platform P2P lending mencapai Rp 60,42 triliun, dengan 2,94 persen dari jumlah tersebut, yaitu sekitar Rp 1,78 triliun, dikategorikan sebagai kredit macet (TWP 90). Hal ini menandai kenaikan 27 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,40 triliun.
“Karena banyak peminjam yang kreditnya macet dan tidak bisa melunasi selama lebih dari 90 hari, mereka terhalang untuk mendapatkan pinjaman baru, yang pada gilirannya mengakibatkan penurunan jumlah rekening atau entitas peminjam dari tahun ke tahun,” kata Bambang saat dikonfirmasi Bantenraya.com, Senin, 15 April 2024.
Baca Juga: Daftar OPD Pemkot Serang yang Terapkan WFH 50 Persen, Pelayanan Diklaim Tak Terganggu
Bambang menilai, banyak debitur khususnya di Banten dan secara nasional, menghadapi masalah tagihan macet dan berharap bisa melakukan write-off atau hapus buku dan tagih pada kredit macetnya.
“Namun, mekanisme write-off di fintech P2P lending berbeda dari sistem perbankan tradisional. Di P2P lending, penyelenggara tidak memiliki hak untuk melakukan write-off karena dana yang dipinjamkan berasal langsung dari para pemberi dana,” imbuhnya.
Selain itu, regulasi dari OJK, khususnya SEOJK Nomor 19 tahun 2023, menetapkan bahwa hanya pemberi dana yang berhak melakukan hapus buku atau tagih atas kredit macet.
Sementara itu, Kepala OJK Jabodebek dan Banten Roberto Akyuwen menambahkan, di Provinsi Banten outstanding pinjaman mengalami pertumbuhan sebesar 11,68 persen, dengan TWP 90 bulan Januari 2024 sebesar 2,40 persen.
Baca Juga: BNPB Berharap Selama Arus Mudik dan Balik Lebaran 2024 Tak Ada Bencana
“Perusahaan pembiayaan mencatatkan pertumbuhan piutang pembiayaan di Provinsi Banten sebesar 11,79 persen secara tahunan, dari Rp28,17 triliun pada Januari 2023 menjadi sebesar Rp31,50 triliun pada Januari 2024,” tutur Robert.
Jika dibandingkan dengan kondisi utang Pinjol antara Banten dan Jakarta, kondisi masyarakat yang melakukan Pinjol di Jakarta semakin berkurang. Tercatat, Pinjol warga Jakarta mencapai Rp11,17 triliun pada tahun 2024 turun dari Januari 2023 sebesar Rp11,37 triliun.
“Namun kualitas pembiayaan melalui non-performing financing (NPF) di Banten sebesar 2,37 persen dan Jakarta 3,60 persen masih terjaga di bawah threshold sebesar 5 persen,” kata Robert.
Salah satu warga Banten yang melakukan Pinjol Abdur Rahman menyebut, alasannya pinjol ialah untuk kebutuhan pengembangan usaha. Dengan skema peminjaman yang sangat mudah.
Baca Juga: Sebuah Mobil LCGC Plat A Memakan Jalan Lawan Arus, Diklakson Hingga Mundur
“Karena pinjol ini sangat mudah dilakukan, pencarian juga cepat, oleh sebab itu saya pinjol, termasuk skema pay later di beberapa platform karena bisa bayar pas mendapatkan gajihan,” tukasnya.***



















