BANTENRAYA.COM – Kelapa kopyor, memiliki cita rasa manis dengan air melimpah dan tekstur daging buah yang lembut, membuat buah yang satu ini banyak diburu oleh pembeli saat Ramadan.
Penjual kelapa kopyor mampu memasarkan hingga 30 butir per hari, dengan omzet rata-rata mencapai Rp1 juta.
Penjual Kelapa Kopyor di Cilegon, Mursid mengatakan, berbeda dengan banyak buah kelapa pada umumnya jenis kelapa kopyor ini sangat sulit untuk dikembangkan dan didapat, sehingga harga jualnya relatif mahal mencapai Rp60 ribu untuk satu buahnya.
“Harga buah kelapa di pasaran itu kan Rp4-8 ribu an, kalau kelapa kopyor ini harganya bisa sampai Rp30-55 ribu per buah, mahal karena memang sulit berbuah dan kita juga cari di daerah lain, seperti di Sumatera misalnya” kata Mursid kepada Bantenraya.com, di Jalan Raya Cilegon, Cibeber, Kota Cilegon Senin 16 Maret 2026.
BACA JUGA: Manchester United vs Aston Villa: The Red Devils Sukses Geprek Tamunya di Old Trafford
Minat Kelapa Kopyor di Cilegon Tinggi
Mursid melanjutkan, minat masyarakat terhadap buah kelapa kopyor ini cukup tinggi terutama di daerah yang panas seperti di Kota Serang dan Cilegon.
“Kalau stok terbatas sekali, apalagi saat puasa kaya gini, ini saja sudah stok terakhir harus cari lagi kita ke daerah Jawa Tengah, karena di Banten itu jumlahnya minim, namun untuk saat ini boleh dibilang mencukupi,” cakapnya.
Beberapa jenis olah yang bisa dibuat dan disajikan dengan buah ini antara lain, es, kolak, puding, kue dan sorbet. Kelapa kopyor juga lebih ringan dibanding dengan buah kelapa pada umumnya, karena daging buah tersebut lebih mengembang.
BACA JUGA: 247 Ribu Pemudik Menyeberang ke Sumatera, ASDP Siapkan Delaying System di Pelabuhan Merak
“Kalau ukuran lebih lecil atau relatif sama beratnya enteng banget kalau kopyor ini, baik yang sudah tua atau yang masih muda semuanya empuk,” tutur Mursid.
Penjual kelapa lainnya Maryanah, secara inisiatif melakukan budi daya terhadap tanaman kelapa kopyor. Ia mengaku, untuk bisa sampai pada masa panen dari mulai pertama kali penanaman membutuhkan waktu selama 5 tahun.
“Saya punya 13 pohon kelapa ini, sejak tahun 2013 saya menggeluti bisnis ini tidak ada yang lain. Dan memang yang berbuah itu baru ada 10 pohon, agak sulit memang dibandingkan kelapa biasa wajar saja kalau mahal, sesuai dengan rasa dan kesediaan barangnya,” kata Maryanah.***











