BANTENRAYA.COM – Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Provinsi Banten mencatat, tingkat hunian hotel atau okupansi selama libur lebaran mengalami penurunan hingga 44,3 persen, terhitung sejak 31 Maret hingga 8 April 2025.
Ketua PHRI GS Ashok Kumar mengatakan, kondisi libur panjang yang seyogyanya menjadi musim panen bagi industri perhotelan kini terpantau mengalami tren pergerakan yang turun.
“Kalau dibandingin dengan libur lebaran tahun sebelumnya itu okupansi di seluruh kabupaten dan kota se Banten bisa mencapai 70 persen, namun di liburan kali ini belum ada tren yang menggembirakan,” kata Ashok kepada Bantenraya.com, Kamis 10 April 2025.
Turunya okupansi hotel di Banten, lantaran imbas dari diterapkannya pemangkasan anggaran 50 persen, sebelumnya pemerintah mampu menyumbang 30 persen okupansi terhadap perputaran ekonomi hotel melalui event dan meeting yang dilakukan.
Baca Juga: Program Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Bantu Warga Serang Lunasi Tunggakan
“Kalau 30 persen MICE dan 40 persen okupansi digabungkan ini menjadi rata-rata okupansi 70 persen, sehingga menjadi parameter yang baik untuk meningkatkan investasi di Banten,” paparnya.
Lanjut Ashok, kondisi ini memberikan dampak yang negatif terhadap iklim investasi maupun peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Dimana beberapa hotel kini harus menunda pembangunan di beberapa wilayah.
“Hotel Grand Mercure di perbatasan Pandeglang dan Serang membuat bangunan 20 lantai dan 300 kamar, ada juga hotel di Rangkasbitung kini menghambat bergulirnya investasi, yang awalnya bisa buka enam bulan lagi,” cakap Ashok.
Selain itu, pihak hotel juga kini tidak menerima siswa SMK yang melakukan praktek kegiatan belajar yang biasanya berlangsung selama tiga sampai enam bulan.
Baca Juga: Dimulai Juni, Program Salira Kelurahan se-Kota Cilegon Masih Tunggu RAB
“Sudah tidak bisa kami akomodir lagi, mengingat SDM di hotel saja kini tengah dilakukan efisiensi. Ini berbeda dengan kondisi Covid-19, karena itu kan wabah namun dampak dari efisiensi ini berimbas ke berbagai hal,” tuturnya.
Demi keberlangsungan sektor pariwisata dan perhotelan di Banten, pihaknya berharap supaya keran anggaran untuk menjalankan aktivitas di perhotelan kembali dibuka sedikit demi sedikit.
“Kami juga kaget kalau misalnya tiba-tiba 50 persen dipangkas, bisa kan untuk 10 persen dulu lalu bertahap agar terbiasa. Dengan segala kerendahan hati, kami harap wakil rakyat juga menyuarakan ini ke ranah terkait,” ujarnya.
“Termasuk menyampaikan juga terkait dengan visi dan misi presiden yang tertuang dalam Asta Cita dimana presiden akan meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, dan mengembangkan industri kreatif,” kata Ashok.***















