• Jumat, 21 Januari 2022

Mengulas Kemerdekaan Belajar

- Selasa, 17 Agustus 2021 | 21:49 WIB
riswanda
riswanda

[dropcap]M[/dropcap]asa kebiasaan baru di periode pandemi mendorong tema bahasan ini semakin mengedepan. Tangkapan peluang positif untuk mengembangkan pola pengajaran dan pembelajaran baru di ranah perguruan tinggi muncul dari kalangan sivitas akademika. Respon positif menerapkan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka hadir di ragam program studi, seiring gencarnya dukungan pemerintah di berbagai aspek. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no. 3/ 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menjadi rujukan payung implementor kebijakan perguruan tinggi melakukan langkah aksi perubahan. Inisiasi kebijakan ini mengusung pembaruan pendekatan pendidikan tinggi, patut diberikan apresiasi. Meski perspektif kampus merdeka tidak sepenuhnya baru dalam kategori inovasi pembelajaran kampus, merdeka belajar setidaknya membuka ruang segar penciptaan SDM unggulan Indonesia. Argumen apa yang mendasari hal tersebut?


Pertama, merdeka belajar menggeser paradigma pembelajaran lama yang mungkin sudah sedikit tertinggal (old school) di perguruan tinggi. Penyampaian materi berjam-jam secara satu arah di kelas menyertai pendengar setia yang mungkin sampai terkantuk-kantuk sudah bisa ditinggalkan. Ternasuk gaya sekedar memindahkan isi buku teks ke power point akan mulai terasa usang. Kampus merdeka menuntut dosen dan mahasiswa untuk sama-sama mengkaji luaran pembelajaran itu sendiri.


Pengajar dan pembelajar dituntut mengkaji keterhubungan diskursi (discourse) konsep dan teori dengan realitas. Kedua belah pihak boleh dikatakan menjadi partisipan aktif dan kontributor nyata tinjauan-tinjauan literatur ilmiah. Penelitian, kajian, dan telaah kasus menggarisbawahi konsepsi pembelajaran perguruan tinggi.


Kedua, kemerdekaan belajar seharusnya lebih serius menjadi intisari merdeka belajar-kampus merdeka. Meskipun, tentu saja di tataran pelaksanaan pemikiran ini membutuhkan penilaian kritis-konstruktif sebagai penyerta. Kenapa seperti itu? Penafsiran istilah 'merdeka' bisa jadi beragam. Corak tafsir adalah nuansa wajar di bangku kuliah. Hanya saja bila keragaman kemudian meruncing menjadi benturan perbedaan berkepanjangan, intisari sekaligus semangat merdeka belajar tadi dapat menjadi paradoks. Bukankah keragaman tafsir justru memperkaya dialektika mengajar-belajar? Keteraturan, tatanan, dan batasan adalah jelas diperlukan bagi Kampus Merdeka. Tetapi, semangat gemilang merdeka belajar bisa pupus jika yang justru dikedepankan adalah kekakuan tata cara, keegoan penggunaan metode, apalagj jika ditambah setumpuk centang prosedur wajib tempuh. Bukankah atmosfer akademis salah satunya adalah melebarkan wahana berpikir ilmiah melaui kebebasan bereksplorasi?


Ketiga, merdeka belajar-kampus merdeka juga perlu dipahami sebagai sebuah proses dan bukan tujuan akhir. Sebagai proses, pendekatan inj membutuhkan ketanggapan beragam aspek pendukung, bukan hanya sisi fisik dan pendanaan. Melainkan lebih kepada ketanggapan mindset pembelajaran.


Sederhananya, menggeser penyampaian lisan ke tulisan dan menuangkan olah pikir secara tekstual mungkin dapat menjadi fondasi awal. Periode pembelajaran virtual di masa PPKM ini misalnya memaksa sivitas kampus menyederhanakan waktu belajar, memangkas pemborosan waktu tempuh antar lokasi dan sedikit memotong periode basa-basi berlarut. Waktu terpekur menyelami isi buku teks, menelaah kajian-kajian terpaut fokus mata kuliah semestinya menjadi lebih luwes. Ke depan, perbaikan apa saja yang dapat ditambahkan?


Peluang menggali potensi olah pikiran ke dalam karya-karya tulis ilmiah terbuka lebar. Pangkasan-pangkasan waktu selama periode pandemi bisa jadi membatasi Kita melakukan hal-hal yang mungkin tergolong pointless, tanpa disadari, dalam konteks pembelajaran jenjang pendidikan tinggi. Masa kebiasaan baru beratribut merdeka belajar seharusnya mampu mengokohkan arena diskusi pemikiran kritis akadamis dan mencegah arena tersebut tercebur ke dalam perdebatan panjang adu opini kosong, atau lebih mengenaskan lagi ajang sosialita.


Nuansa kampus merdeka seyogyanya mendorong sivitas akademika memunculkan langgam penemuan-penemuan inovatif. Iklim kampus merdeka membutuhkan kompetisi sehat di bidang keunggulan pemikiran intelektual. Sehingga capaian pembelajaran tidak berhenti di urusan angka, huruf dan sertifikat. Keunggulan lulus tempuh proses merdeka belajar ditandai dengan kapasitas terukur kebermanfaatan hasil karya sesuai rumpun keilmuan yang ditempuh.


Transisi pembelajaran manual ke digital juga semestinya dimaknai sebagai peluang pemanfaatan teknologi informasi komunikasi — diartikan sebagai penyegaran perangkat pembelajaran, dan bukan beban. Kesenjangan digital (yang mungkin ada) hendaknya tidak ditambah dengan banjir pilihan ragam perangkat, lebih lagi dibebani kewajiban-kewajiban admnistratif. Pembebanan bisa saja mengalihkan fokus merdeka belajar membentuk ‘spesialis unggul’, katakanlah begitu, ke kesibukan menempuh prosedur. Pameo ‘spesialis persyaratan’ tentu bukan luaran yang diharapkan dari kampus merdeka.

Halaman:

Editor: Redaksi

Terkini

Keniscayaan hadirnya UU TPKS

Senin, 17 Januari 2022 | 10:28 WIB

Mendemokrasikan Kampanye: Sebuah Catatan Kebijakan

Jumat, 7 Januari 2022 | 09:46 WIB

Membicarakan Capacity Building

Sabtu, 25 Desember 2021 | 19:00 WIB

Pendidikan Tanggap Dunia Kerja

Minggu, 12 Desember 2021 | 06:00 WIB

Catatan UU Ciptaker Selepas Putusan MK

Minggu, 5 Desember 2021 | 06:27 WIB

Meningkah Permendikbudristek 30 Tahun 2021

Senin, 29 November 2021 | 21:00 WIB

De-generasi Petani: Sorotan Sosial-Politik

Senin, 22 November 2021 | 06:37 WIB

Menaksir Intervensi Sosial

Rabu, 10 November 2021 | 18:30 WIB

Menyambung Daya Tahan Sosial Selepas Pandemi

Rabu, 3 November 2021 | 10:15 WIB

Memadamkan Ruang Bisnis Pornografi

Rabu, 27 Oktober 2021 | 13:40 WIB

Cipta Daya Saing Unggul

Senin, 18 Oktober 2021 | 20:20 WIB

Inovasi Sektor Publik: Apakah Sekadar Slogan?

Jumat, 15 Oktober 2021 | 17:21 WIB

Mempertikaikan RUU PKS

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 09:51 WIB

Mengurai Regulasi Tembakau

Kamis, 30 September 2021 | 20:26 WIB

Mungkinkah Menihilkan Kekerasan pada Anak?

Rabu, 22 September 2021 | 19:08 WIB

Perihal Ketenagakerjaan

Rabu, 15 September 2021 | 21:54 WIB

Mengulas Kemerdekaan Belajar

Selasa, 17 Agustus 2021 | 21:49 WIB
X