• Minggu, 23 Januari 2022

Mengenal Sosok Usmar Ismail, Bapak Film Indonesia yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

- Selasa, 9 November 2021 | 09:19 WIB
Mengenal sosok Usmar Ismail, Bapak Film Indonesia yang dianugerahi gelar pahlawan nasional ( muspen.kominfo.go.id)
Mengenal sosok Usmar Ismail, Bapak Film Indonesia yang dianugerahi gelar pahlawan nasional ( muspen.kominfo.go.id)

BANTENRAYA.COM – Bapak Film Indonesia Usmar Ismail bakal dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Umar Ismail akan diberikan langsung oleh Presiden Jokowi di Istana Bogor, Rabu 10 November 2021.

Usmar Ismail yang akan mendapat gelar pahlawan nasional bersama tiga tokoh lain.

Baca Juga: Pemprov Banten Bakal Bangun Bumi Perkemahan, di Sini Lokasinya

Ketiga tokoh lain tersebut diantaranya Raden Ayra Wangsakara dari Banten, Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur, dan Tombolatutu dari Sulawesi Tengah.

Sosok Usmar Ismail, dikenal sebagai pelopor perfilman serta pelopor drama modern di Indonesia.

Usmar Ismail ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 20 Maret 1921, awal mula karier Usmar di dunia perfilman dimulai saat ia menjadi asisten sutradara untuk film 'Gadis Desa' tahun 1949.

Baca Juga: Peringati Maulid Nabi, Walikota Serang: Ini Cermin PWKS Cinta Rasulullah

Awalnya, Usmar Ismail diajak oleh Andjar Asmara untuk bergabung bersama perusahaan film milik Belanda, yakni South Pacific Corporation.

Hal itu terjadi setelah Usmar Ismail keluar dari tahanan atas tuduhan melakukan subversi oleh Belanda saat menjalankan profesi sebagai wartawan di Kantor Berita Antara.

Di tahun yang sama Usmar Ismail juga dipercaya untuk menyutradarai film 'Harta Karun' dan 'Tjitra' berdasarkan naskah drama yang ia tulis pada zaman penjajahan Jepang.

Baca Juga: Ernest Prakasa Minta Maaf dan Menghapus Postingan di Twitter, Terkait Anak Vanessa Angel

Akan tetapi, film-film yang Usmar Ismail sutradarai selain 'Gadis Desa' ini tidak memberikan kepuasan bagi dirinya sehingga Usmar berinisiatif untuk mendirikan perusahaan Perfini pada 30 Maret 1950.

Di itu juga, Usman melakukan syuting perdana 'Darah dan Doa' atau yang biasanya disebut dengan 'Long March Siliwangi' yang berlokasi di daerah Purwakarta dan Subang, Jawa Barat.

Disebut-sebut sebagai kelahiran film nasional, di film 'Darah dan Doa' ini Usmar Ismail mengajak aktor yang tidak memiliki pengalaman di dalam seni peran.

Baca Juga: Hadapi Dewa United di Putaran Kedua Liga 2 Indonesia, Perserang Siap Tempur

Aktor tersebut yakni, Del Yuzar, Awaludding Djamin, Aedy Moward, dan Farida yang berhasil digaet oleh Usmar Ismail.

Film yang disutradarai oleh Usmar Ismail ini merupakan film pertama tentang masyarakat Indonesia dalam berevolusi.

Akan tetapi film 'Darah dan Doa' ini ternyata menuai konflik, terutama dari perwira angkatan darat.

Baca Juga: 206 Kades Dilantik Bupati Irna Narulita, Kades Baru Diminta Lakukan Koordinasi dan Sukseskan Program Vaksinasi

Mereka menilai, di film tersebut tidak menggambarkan keperwiraan dan menjelaskan kelemahan seorang anggota tentara.

Walaupun begitu, Usmar Ismail menegaskan bahwa tokoh Sudarto dalam 'Darah dan Doa' bukan menjelaskan pahlawan dalam artian umum.

Ia ingin menggambarkan seorang tentara yang terlibat oleh revolusi yang dibalut dengan sisi manusiawi.

Baca Juga: Aura Kasih Pakai Kerudung, Netizen: Semoga Istiqomah Berhijab

Setelah film 'Darah dan Doa', Usmar Ismail segera memulai produksi keduanya dengan mengangkat tema yang sama, yakni perjuangan zaman revolusi dengan judul 'Enam Djam di Djogja' pada tahun 1951.

Kemudian di tahun 1952, Usmar Ismail memperoleh beasiswa dari Yayasan Rockefeller untuk belajar sinematografi di University of California Los Angeles.

Berkat pengetahuan yang Usmar Ismail dapatkan saat belajar di Amerika, Ia kembali memproduksi karya-karya filmnya.

Baca Juga: Tak Hanya Pernikahan, Kini KUA Juga Layani Bimbingan Manasik Haji Sepanjang Tahun

 

Lalu, pada tahun berikutnya, Usmar Ismail membuat film 'Lewat Tengah Malam' pada tahun 1954, bersama dengan Persari pimpinan Djamaluddin Malik.

Ia juga memproduksi film 'Pedjuang' di tahun 1959 dan memenangkan penghargaan aktor terbaik dalam kategori Festival Film di Moskwa tahun 1961.

Selain film-film tersebut, Usmar Ismail juga telah membuat sejumlah film selama kariernya.

Baca Juga: Dituding Eksploitasi Anak Vanessa Angel, Adik Bibi Andriansyah: Kalau Tak Berkontribusi Tolong Respect-nya

Diantaranya, 'Dosa Tak Berampun' di tahun 1951, 'Terimalah Laguku' pada tahun 1952, 'Kafedo' tahun 1953, 'Krisis' 1953, 'Tamu Agung' 1955, 'Tiga Dara' 1956, dan lain sebagainya.

Film terakhir yang dibuatnya adalah 'Ananda' pada 1970. Selang satu tahun dari pembuatan film Ananda, Usmar Ismail wafat pada 2 Januari 1971. ***

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Jermainne Tirta Dewa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

1.110 Mahasiswa Untirta Terpilih Ikuti KKM Offline

Jumat, 14 Januari 2022 | 09:30 WIB

Hari Sejuta Pohon, BEM FT Untirta Tanam Ribuan Pohon

Selasa, 11 Januari 2022 | 09:27 WIB
X